1. QS AL AHZAB 40: ” Bukanlah Muhammad itu bapak salah
seorang laki-laki di antara kamu tetapi dia adalah
Rasulullah dan penutup Nabi-nabi”
2. Imam Muslim dan yang lainnya meriwayatkan dari Abu
Hurairah r.a. bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Perumpamaan saya dan para Nabi sebelum saya seperti orang
yang membangun satu bangunan lalu dia membaguskan dan
membuat indah bangunan itu kecuali tempat batu yang ada di
salah satu sudut. Kemudian orang-orang mengelilinginya dan
mereka ta’juk lalu berkata: ‘kenapa kamu tidak taruh batu
ini.?’ Nabi menjawab : Sayalah batu itu dan saya penutup
Nabi-nabi”
3. Imam Muslim juga meriwayatkan dari Jubair bin Mut’im RA
bahwa Nabi SAW bersabda:
“Sesungguhnya saya mempunyai nama-nama, saya Muhammad, saya
Ahmad, saya Al-Mahi, yang mana Allah menghapuskan kekafiran
karena saya, saya Al-Hasyir yang mana manusia berkumpul di
kaki saya, saya Al-Aqib yang tidak ada Nabi setelahnya”
4. Abu Daud dan yang lain dalam hadist Thauban Al-Thawil,
bersabda Nabi Muhammad SAW:
“Akan ada pada umatku 30 pendusta semuanya mengaku nabi, dan
saya penutup para Nabi dan tidak ada nabi setelahku”
5. Khutbah terakhir Rasulullah …
” …Wahai manusia, tidak ada nabi atau rasul yang akan
datang sesudahku dan tidak ada agama baru yang akan lahir.
Karena itu, wahai manusia, berpikirlah dengan baik dan
pahamilah kata-kata yang kusampaikan kepadamu. Aku
tinggalkan dua hal: Al Quran dan Sunnah, contoh-contoh
dariku; dan jika kamu ikuti keduanya kamu tidak akan pernah
tersesat …”
6. Rasulullah SAW menjelaskan: “Suku Israel dipimpim oleh
Nabi-nabi. Jika seorang Nabi meninggal dunia, seorang nabi
lain meneruskannya. Tetapi tidak ada nabi yang akan datang
sesudahku; hanya para kalifah yang akan menjadi penerusku
(Bukhari, Kitab-ul-Manaqib).
7. Rasulullah SAW menegaskan: “Posisiku dalam hubungan
dengan nabi-nabi yang datang sebelumku dapat dijelaskan
dengan contoh berikut: Seorang laki-laki mendirikan sebuah
bangunan dan menghiasinya dengan keindahan yang agung,
tetapi dia menyisakan sebuah lubang di sudut untuk tempat
sebuah batu yang belum dipasang. Orang-orang melihat
sekeliling bangunan tersebut dan mengagumi keindahannya,
tetapi bertanya-tanya, kenapa ada sebuah batu yang hilang
dari lubang tersebut? Aku seperti batu yang hilang itu dan
aku adalah yang terakhir dalam jajaran Nabi-nabi”. (Bukhari,
Kitab-ul-Manaqib).
8. Rasulullah SAW menyatakan: “Allah telah memberkati aku
dengan enam macam kebaikan yang tidak dinikmati Nabi-nabi
terdahulu: – Aku dikaruniai keahlian berbicara yang efektif
dan sempurna. – Aku diberi kemenangan kare musuh gentar
menghadapiku – Harta rampasan perang dihalalkan bagiku. -
Seluruh bumi telah dijadikan tempatku beribadah dan juga
telah menjadi alat pensuci bagiku. Dengan kata lain, dalam
agamaku, melakukan shalat tidak harus di suatu tempat
ibadah tertentu. Shalat dapat dilakukan di manapun di atas
bumi. Dan jika air tidak tersedia, ummatku diizinkan untuk
berwudhu dengan tanah (Tayammum) dan membersihkan dirinya
dengan tanah jika air untuk mandi langka. – Aku diutus Allah
untuk menyampaikan pesan suciNYA bagi seluruh dunia. – Dan
jajaran Kenabian telah mencapai akhirnya padaku (Riwayat
Muslim, Tirmidhi, Ibnu Majah)
9. Rasulullah SAW menegaskan: “Rantai Kerasulan dan Kenabian
telah sampai pada akhirnya. Tidak akan ada lagi rasul dan
nabi sesudahku”. (Tirmidhi, Kitab-ur-Rouya, Bab
Zahab-un-Nubuwwa; Musnad Ahmad; Marwiyat-Anas bin Malik).
10. Rasulullah SAW menjelaskan: ‘Saya Muhammad, Saya Ahmad,
Saya Pembersih dan kekafiran harus dihapuskan melalui aku;
Saya Pengumpul, Manusia harus berkumpul pada hari kiamat
yang datang sesudahku. (Dengan kata lain, Kiamat adalah
satu-satunya yang akan datang sesudahku); dan saya adalah
Yang Terakhir dalam arti tidak ada nabi yang datang
sesudahku”. (Bukhari dan Muslim, Kitab-ul-Fada’il, Bab
Asmaun-Nabi; Tirmidhi, Kitab-ul-Adab, Bab Asma-un-Nabi;
Muatta’, Kitab-u-Asma-in-Nabi; Al-Mustadrak Hakim,
Kitab-ut-Tarikh, Bab Asma-un-Nabi).
11. Rasulullah SAW menjelaskan: “Allah yang Maha Kuasa tidak
mengirim seorang Nabi pun ke dunia ini yang tidak
memperingatkan ummatnya tentang kemunculan Dajjal
(Anti-Kristus, tetapi Dajjal tidak muncul dalam masa
mereka). Aku yang terakhir dalam jajaran Nabi-Nabi dan
kalian ummat terakhir yang beriman. Tidak diragukan, suatu
saat, Dajjal akan datang dari antara kamu”. (Ibnu Majah,
Kitabul Fitan, Bab Dajjal).
12. Abdur Rahman bin Jubair melaporkan: “Saya mendengar
Abdullah bin ‘Amr ibn-’As menceritakan bahwa suatu hari
Rasulullah SAW keluar dari rumahnya dan bergabung dengan
mereka. Tindak-tanduknya memberi kesan seolah-olah beliau
akan meninggalkan kita. Beliau berkata: “Aku Muhammad, Nabi
Allah yang buta huruf”, dan mengulangi pernyataan itu tiga
kali. Lalu beliau menegaskan: “Tidak ada lagi Nabi
sesudahku”. (Musnad Ahmad, Marwiyat ‘Abdullah bin ‘Amr
ibn-’As).
13. Rasulullah SAW berkata: ” Allah tidak akan mengutus Nabi
sesudahku, tetapi hanya Mubashirat”. Dikatakan, apa yang
dimaksud dengan al-Mubashirat. Beliau berkata: Visi yang
baik atau visi yang suci”. (Musnad Ahmad, marwiyat Abu
Tufail, Nasa’i, Abu Dawud). (Dengan kata lain tidak ada
kemungkinan turunnya wahyu Allah di masa yang akan datang.
Paling tinggi, jika seseorang mendapat inspirasi dari Allah,
dia akan menerimanya dalam bentuk mimpi yang suci).
14. Rasulullah SAW berkata: “Jika benar seorang Nabi akan
datang sesudahku, orang itu tentunya Umar bin Khattab”.
(Tirmidhi, Kitab-ul-Manaqib).
15. Rasulullah SAW berkata kepada ‘Ali, “Hubunganmu denganku
ialah seperti hubungan Harun dengan Musa. Tetapi tidak ada
Nabi yang akan datang sesudahku”. (Bukhari dan Muslim, Kitab
Fada’il as-Sahaba).
16. Rasulullah SAW menjelaskan: “Di antara suku Israel
sebelum kamu, benar-benar ada orang-orang yang berkomunikasi
dengan Tuhan, meskipun mereka bukanlah NabiNYA. Jika ada
satu orang di antara ummatku yang akan berkomunikasi dengan
Allah, orangnya tidak lain daripada Umar. (Bukhari,
Kitab-ul-Manaqib)
17. Rasulullah SAW berkata: “Tidak ada Nabi yang akan datang
sesudahku dan karena itu, tidak akan ada ummat lain pengikut
nabi baru apapun”. (Baihaqi, Kitab-ul-Rouya; Tabrani)
Wassalam
M. Nurhuda



Ass :
Saya lihat terjemah Qur’an Suryawan (orang Ahmadiyyah) benar2 beda.
Kalau kita lihat Al Qur’an terjemah Departemen Agama mau pun terjemah dari ulama Arab Saudi yang disebar ke
seluruh dunia, maka terjemahnya betul2 beda.
Pertama, Al Ahzab:40. Pada terjemah Islam, arti Khaataman Nabiyyin artinya Muhammad penutup Nabi2.
Artinya Nabi Muhammad Nabi terakhir dan tak ada lagi Nabi sesudahnya. Di berbagai hadits shahih di Bukhori, Muslim, dsb, menegaskan hal itu.
Kalau terjemah Ahmadiyyah, Nabi Muhammad cuma “Cincin Nabi2.” Hampir tidak ada maknanya. Bahkan orang bisa
memahami, Nabi cuma cincin/perhiasan Nabi2. Bukan Nabi…:)
Terjemah Ahmadiyah:
QS. (44:6-7) Allah Ta’ala bersifat Mursil (yang mengutus Rasul-Rasul Nya). Sifat Allah Ta’ala ini akan selalu dan terus bekerja selama lamanya. Sifat ini tidak terikat dengan tempat dan waktu. Jadi, adanya kenabian setelah Nabi Muhammad s.a.w. adalah tidak mustahil dengan mempertimbangkan salah satu sifat Allah Ta’ala ini.
Ini juga beda. Kalau terjemah Islam:
“sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Tuhan Yang memelihara langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, jika kamu adalah orang yang meyakini.”
Terjemah Ahmadiyah:
QS.(22:76) – “Allah senantiasa memilih rasul-rasul-Nya dari antara malaikat-malaikat dan dari antara manusia”.
Terjemah Islam:
“Allah mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka. Dan hanya kepada Allah dikembalikan semua urusan.”
Terjemah Ahmadiyah:
QS.(3:180) – Dalam ayat tersebut terdapat perkataan: “yadzara”, “yamiidza”, “yuthli’a”, “yajtabii”. Bentuk perkataan tersebut adalah fi’il mudhari yang dipakai untuk zaman kini dan zaman yang akan datang. Jadi maksud ayat ini adalah Allah S.w.t. akan (terus) mengirimkan utusan-utusan-Nya untuk memisahkan yang baik dari yang buruk dan untuk memberitahukan tentang kabar-kabar ghaib.
Terjemah Islam:
Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi merek Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Terjemah Ahmadiyah:
QS.(7:36) Dalam ayat ini: “Wahai anak cucu Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul dari antaramu …”. Yang dimaksudkan anak cucu Adam adalah umat manusia. Baik umat manusia terdahulu sebelum Nabi Muhammad s.a.w. dan umat manusia setelah Nabi Muhammad s.a.w. tetap akan didatangi oleh Rasul-Rasul Allah dari antara anak cucu Adam (umat manusia). Dengan kata lain ayat ini tidak terikat dengan tempat dan waktu.
Terjemah Islam:
“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. ”
Semua ayat2 Al Qur’an yang dikemukakan oleh Suryawan, orang Ahmadiyah ini, ternyata berbeda dgn terjemahan Al Qur’an yang umum dari Departemen agama mau pun dari Kerajaan Saudi Arabia. Apa Al Qur’an Ahmadiyah memang betul2 berbeda dengan Al Qur’an ummat Islam?
Jadi apa yang mau didiskusikan?
Alhamdulillah Al Qur’an dituliskan dalam bahasa Arab yang satu, sehingga tidak mudah diselewengkan artinya.
Agar tidak tersesat, marilah kita bersama2 membaca Al Qur’an serta hadits2 seperti “Shahih Bukhori”, “Shahih Muslim”, dsb.
“ma_suryawan”
, A Nizami
Soal 17 dalil yg diambil oleh Nizami dan Nurhuda dari Abul Ala Maududi, mari lihat penjelasan dibawah ini.
1. QS AL AHZAB 40: ” Bukanlah Muhammad itu bapak Salah seorang laki-laki di antara kamu tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-nabi” Yang benar tulisannya adalah (kh-alif-t-m) yaitu “khaatam” – bukan “khatam” (kh-t-m). Kata “khaataman-nabiyyiin” sudah sering dijelaskan. “Khaataman-nabiyyiin berarti “cincin para nabi” atau “meterai para nabi” atau “seal of the prophets”, dan “khaataman- nabiyyiin” bukanlah berarti: Tidak boleh ada nabi lagi apapun juga setelah Nabi Muhammad saw. Sebab, dalam Al-Qur’an Karim banyak didapat penjelasan dapat datangnya nabi/rasul setelah Nabi Muhammad saw, beberapa diantaranya sbb:
QS.(44:6-7) – Allah Ta’ala bersifat Mursil (yang mengutus Rasul-Rasul-Nya). Sifat Allah Ta’ala ini akan selalu dan terus bekerja selama- lamanya. Sifat ini tidak terikat dengan tempat dan waktu. Jadi, adanya kenabian setelah Nabi Muhammad s.a.w. adalah tidak mustahil dengan mempertimbangkan salah satu sifat Allah Ta’ala ini.
QS.(22:76) – “Allah senantiasa memilih rasul-rasul-Nya dari antara malaikat-malaikat dan dari antara manusia”. Perkataan “yashthafii” (memilih) dalam ayat ini, menurut peraturan bahasa Arab adalah fi’il mudhari, yaitu menunjukkan pekerjaan yang sedang atau akan dilakukan. Jadi, Allah S.w.t. sedang atau akan memilih Rasul-Rasul-Nya menurut keadaan zaman atau menurut keperluannya. Dengan kata lain ayat ini tidak terikat dengan tempat dan waktu.
QS.(3:180) – Dalam ayat tersebut terdapat perkataan: “yadzara”, “yamiidza”, “yuthli’a”, “yajtabii”. Bentuk perkataan tersebut adalah fi’il mudhari yang dipakai untuk zaman kini dan zaman yang akan datang. Jadi maksud ayat ini adalah Allah S.w.t. akan (terus) mengirimkan utusan-utusan-Nya untuk memisahkan yang baik dari yang buruk dan untuk memberitahukan tentang kabar-kabar ghaib.
QS.(7:36) – Dalam ayat ini: “Wahai anak cucu Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul dari antaramu …”. Yang dimaksudkan anak cucu Adam adalah umat manusia. Baik umat manusia terdahulu sebelum Nabi Muhammad s.a.w. dan umat manusia setelah Nabi Muhammad s.a.w. tetap akan didatangi oleh Rasul-Rasul Allah dari antara anak cucu Adam umat manusia). Dengan kata lain ayat ini tidak terikat dengan tempat dan waktu. Jadi, jelasnya kalau anda mengartikan ayat “khaataman nabiyyiin” sebagai nabi penutup/terakhir yaitu tidak adanya nabi apapun juga setelah Nabi Muhammad saw – maka akan bertentangan/bertabrakan dengan ayat-ayat tersebut diatas yg menjelaskan dapat datangnya kenabian setelah Nabi Muhammad saw. Padahal Allah Ta’ala telah menetapkan: Tidak ada pertentangan antara satu ayat dengan ayat lainnya
QS.(4:82). Jadi, arti harfiah/letterlijk “khaataman-nabiyyiin” adalah: meterai para nabi atau cincin para nabi. Arti maknawi/hakiki “khaataman-nabiyyiin” adalah: menunjukkan suatu rank/derajat/martabat/status/maqam. Dengan kata lain adalah: nabi yang tersempurna/terunggul/termulia dari para nabi. Sebab: kata “khaataman-nabiyyiin” adalah ism tunggal (i.e. “khaatam”) yang direndeng dengan ism jamak (i.e. “nabiyyiin”) – maka mengandung arti martabat/maqam/derajat/rank. Jadi, arti dan hakikat
Sesungguhnya “khaataman-nabiyyiin” adalah: yang termulia/tersempurna/terunggul diantara para nabi atau meterai para nabi atau cincin (perhiasan) para nabi, dst. Sekarang kita lihat penjelasan Hadits berikut ini: Peristiwa wafatnya Ibrahim (putera Rasulullah dari Hz. Maria Qibtiyah ra) tercatat sebagai berikut: “Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, berkatalah ia: “Ketika Ibrahim ibnu Rasulullah saw wafat, beliau (saw) menyembahyangkan jenazahnya dan berkata, “Sesungguhnya di sorga ada yang menyusukannya, dan kalau usianya panjang, ia akan menjadi nabi yang benar”. (Sunan Ibnu Majah, Abu Abdillah Alqazwaini, Darul Fikr, jld. II, hlm. 484, Hadits no. 1511).
Peristiwa wafatnya Ibrahim terjadi pada tahun 9 H, Sedangkan ayat “khaataman-nabiyyiin” turun pada tahun 5 H. Jadi, ucapan beliau saw mengenai Ibrahim sebagaimana ditemukan dalam Hadits itu adalah 4 tahun kemudian setelah beliau saw menerima ayat “khaataman- nabiyyiin”. Jika seandainya ayat “khaataman-nabiyyiin” kemudian diartikan sebagai “penutup/kesudahan/penghabisan/akhir” nabi-nabi yaitu enggak boleh ada nabi lagi apapun juga setelah beliau saw, maka seharusnya beliau mengatakan jikalau usianya panjang, tentu ia tidak akan pernah menjadi nabi karena akulah penutup nabi-nabi. Jadi, amat jelas bahwa Nabi saw yang menerima wahyu, dan beliau-lah yg paling mengetahui arti serta makna dari wahyu yang diterimanya dan beliau saw tidak mengungkapkan pengertian “khaatam” sebagai penutup atau terakhir, yaitu enggak boleh ada nabi apapun juga setelah beliau saw – seperti yg biasa diucapkan kyai2/mullah2/ulama2 Islam mainstream.
2. Imam Muslim dan yang lainnya meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: “Perumpamaan saya dan para Nabi sebelum saya seperti orang yang membangun satu bangunan lalu dia membaguskan dan membuat indah bangunan itu kecuali tempat batu yang ada di salah satu sudut. Kemudian orang-orang mengelilinginya dan mereka ta’juk lalu berkata: ‘kenapa kamu tidak taruh batu ini.?’ Nabi menjawab : Sayalah batu itu dan saya penutup Nabi-nabi” Bangunan yang dimaksud adalah Syari’at yang dibuat oleh Allah Ta’ala melalui para utusan-Nya. Syari’at (Bangunan) Tuhan secara bertahap dibangun ditiap masa dan mencapai puncak kesempurnaanya pada Syari’at (Bangunan) Islam, yang dibawa oleh Hz. Rasulullah saw (5:3). Oleh sebab itu tidak akan ada lagi nabi yang akan membawa Syari’at baru, sebab bangunan indah (Syari’at) tersebut telah sempurna. Tidak dapat lagi ditambah/dikurangi. Inilah maksud dari arti kalimat “saya adalah penutup nabi-nabi”. Jadi, jika Hadits tsb di-interpretasikan bahwa yang menjadi sebuah “batu terakhir” itu adalah Nabi Muhammad saw, maka itu adalah merupakan suatu penghinaan atas diri Nabi saw
sendiri. Apakah beliau saw hanya seperti sebuah batu saja untuk ditempatkan bagi sebuah bangunan yang sangat indah itu? Jika dimisalkan dengan tiang, mungkin dapat diterima. Tetapi jika Nabi saw hanya “sekedar batu bata terakhir” saja, sangat keterlaluan, padahal kedudukan nabi Muhammad saw jauh lebih tinggi dari semua nabi yang pernah ada, bahkan dari malaikat sekalipun. Jadi, jelaslah bahwa maksud Hadits ini adalah bahwa beliau saw adalah nabi yang terakhir membawa Syari’at. Tidak akan datang nabi lain yg membawa Syari’at.
3. Imam Muslim juga meriwayatkan dari Jubair bin Mut’im RA bahwa Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya saya mempunyai nama-nama, saya Muhammad, saya Ahmad, saya Al-Mahi, yang mana Allah menghapuskan Kekafiran karena saya, saya Al-Hasyir yang mana manusia berkumpul di kaki saya, saya Al-Aqib yang tidak ada Nabi setelahnya”
Dalam Hadits Tirmizi ditemukan: ” Anal ‘aaqibu wal ‘aqibul-ladziy laisa ba’di hu nabiyyun” maksudnya adalah tidak akan ada lagi nabi yang serupa/sederajat dengan Hz. Rasulullah saw. Nabi yang membawa Syari’at baru yang akan menggantikan Syari’at Islam tidak dapat datang lagi. Dalam Mirqat, Syarah Misykat, Jilid V, Hal. 376, Imam Mulla Ali Al- Qari berkata: “Lahirnya ungkapan itu (‘Aqib) adalah tafsir dari sahabat-sahabat atau dari orang yang kemudian. Dalam syarah Muslim, Syekh Ibn Arabi berkata, bahwa ‘aqib ialah orangyang menggantikan seseorang dalam sifat-sifat yang baik.
Jadi, dalam bahasa Arab, bahasa asli yang digunakan oleh para sahabat, mereka sudah mengerti apa arti “aqib” yang sebenarnya, sehingga para sahabat ra tidak ada yang protes ketika Hz. Aisyah ra melarang orang untuk mengatakan “laa nabiya ba’dahu” (Tidak ada nabi sesudahnya).
4. Abu Daud dan yang lain dalam hadist Thauban Al-Thawil, bersabda Nabi Muhammad SAW: “Akan ada pada umatku 30 pendusta semuanya mengaku nabi, dan saya penutup para Nabi dan tidak ada nabi setelahku”
Membatasi jumlah itu hanya sampai 30 orang pembohong yang akan mendakwakan dirinya nabi, sudah menunjukkan bahwa akan adanya nabi yang benar. Kalau tiap-tiap orang yang akan mendakwakan diri sbg nabi adalah pendusta, tentu Nabi Muhammad saw akan mengatakan bahwa tiap- tiap orang yang mendakwakan diri sebagai nabi semuanya adalah pembohong/pendusta.
Jika anda mau melihat dalam syarah Muslim, Ikmalul Ikmal, Jilid VI, hal 258, dikatakan: “Kebenaran Hadits ini sudah nyata, sebab jika dihitung jumlahnya orang-orang yang mendakwakan dirinya nabi dari sejak masa Nabi saw hingga sekarang pasti sudah tercapai jumlah tersebut, dan ini diketahui oleh orang-orang yang suka mempelajari riwayat (tarikh)”. – Penulis buku tsb wafat pada tahun 828 Hijriah.
Jadi, dalam masa 400 tahun sudah ada 30 orang yang Mendakwakan dirinya jadi nabi.
Jadi jelasnya, yang dimaksud oleh Hz. Rasulullah saw dengan “laa nabiyya ba’di” adalah tidak akan ada lagi nabi yang membawa Syari’at baru yang akan menggantikan Syari’at Islam.
5. Khutbah terakhir Rasulullah ” …Wahai manusia, tidak ada nabi atau rasul yang akan datang sesudahku dan tidak ada agama baru yang akan lahir. Karena itu, wahai manusia, berpikirlah dengan baik dan pahamilah kata-kata yang kusampaikan kepadamu. Aku tinggalkan dua hal: Al Qur’an dan Sunnah, contoh-contoh dariku; dan jika kamu ikuti keduanya kamu tidak akan pernah tersesat …” Sumbernya darimana? Ngarang ya? Atau jangan-jangan ini cuma karangan Maududi dan fans beratnya saja seperti Nizami dkk.
6. Rasulullah SAW menjelaskan: “Suku Israel dipimpim oleh Nabi-nabi. Jika seorang Nabi meninggal dunia, seorang nabi lain meneruskannya. Tetapi tidak ada nabi yang akan dating sesudahku; hanya para kalifah yang akan menjadi penerusku (Bukhari, Kitab-ul-Manaqib).
Hadits ini benar dan tidak bertentangan dengan Al-Qur’an Karim maupun Hadits lainnya. Tidak akan datang nabi yang membawa Syari’at baru dan setelah wafatnya Hz. Rasulullah saw, diteruskan oleh para khalifah rasulullah. Lihat kata “sayakunu khulafa” (akan ada khalifah-khalifah) menunjukkan maksud “dibelakang” atau “kemudian aku” itu adalah masa yang dekat, karena huruf SA dalam perkataan SAYAKUNU menunjukkan kepada masa yang dekat. Jadi, setelah beliau saw wafat, dalam waktu dekat tidak akan ada nabi.
Tapi ingat, ditempat lain Nabi saw bersabda: “Akan terjadi nubuat kenabian) sampai waktu yang disukai Allah Swt, kemudian akan terjadi khilafat seperti dalam nubuat sampai waktu yang dikehendaki Allah swt, kemudian akan berdiri kerajaan sampai waktu yang dikehendaki Allah swt, kemudian terjadi khilafat dalam nubuat. Kemudian beliau berdiam diri”.(Musnad Ahmad, Baihaqi, Misykat hal.461).
Juga dalam shahih Bukhari: “kaifa antum idza nazala
ibn maryama fikum wa imamukum minkum” – Bagaimana keadaan kamu [umat Islam] jika turun ibn maryama dari antara kamu dan menjadi imam bagi kamu? [Bukhari, kitabul-anbiya, chapter nuzul isa bin maryam] – bahwa Isa ibn Maryam yg akan datang berasal dari umat Islam.
7. Rasulullah SAW menegaskan: “Posisiku dalam hubungan dengan nabi-nabi yang datang sebelumku dapat dijelaskan dengan contoh berikut: Seorang laki-laki mendirikan sebuah bangunan dan menghiasinya dengan keindahan yang agung, tetapi dia menyisakan sebuah lubang di sudut untuk tempat sebuah batu yang belum dipasang. Orang-orang melihat sekeliling bangunan tersebut dan mengagumi keindahannya, tetapi bertanya-tanya, kenapa ada sebuah batu yang hilang dari lubang tersebut? Aku seperti batu yang hilang itu dan aku adalah yang terakhir dalam jajaran Nabi-nabi”. (Bukhari, Kitab-ul-Manaqib).
Bangunan yang dimaksud adalah Syari’at yang dibuat oleh Allah Ta’ala melalui para utusan-Nya. Syari’at (Bangunan) Tuhan secara bertahap dibangun ditiap masa dan mencapai puncak kesempurnaanya pada Syari’at (bangunan) Islam, yang dibawa oleh Hz. Rasulullah saw (5:3). Oleh sebab itu tidak akan ada lagi nabi yang akan membawa Syari’at baru, sebab bangunan indah (Syari’at) tersebut telah sempurna. Tidak dapat lagi ditambah/dikurangi. Inilah maksud dari arti kalimat “aku seperti batu yang hilang itu” artinya beliau yg membawa dan menyempurnakan Syari’at (Bangunan), sehingga beliau adalah nabi terakhir yang membawa Syari’at. Tidak akan datang nabi lain yg membawa Syari’at.
8. Rasulullah SAW menyatakan: “Allah telah memberkati aku dengan enam macam kebaikan yang tidak dinikmati Nabi-nabi terdahulu: – Aku dikaruniai keahlian berbicara yang efektif dan sempurna. – Aku diberi kemenangan kare musuh gentar menghadapiku – Harta rampasan perang dihalalkan bagiku. – Seluruh bumi telah dijadikan tempatku beribadah dan juga telah menjadi alat pensuci bagiku. Dengan kata lain, dalam agamaku, melakukan shalat tidak harus di suatu tempat ibadah tertentu. Shalat dapat dilakukan di manapun di atas bumi. Dan jika air tidak tersedia, ummatku diizinkan untuk berwudhu dengan tanah (Tayammum) dan membersihkan dirinya dengan tanah jika air untuk mandi langka. – Aku diutus Allah untuk menyampaikan pesan suciNYA bagi seluruh dunia. – Dan jajaran Kenabian telah mencapai akhirnya padaku (Riwayat Muslim, Tirmidhi, Ibnu Majah) Dalam hadist ini terlihat jelas dan tidak diragukan lagi bahwa banyak peraturan/hukum disebutkan dalam Hadits ini
dan yang dimaksudkan oleh peraturan-peraturan itu adalah Syari’at yang sempurna (Islam) telah berakhir pada kenabian Hz. Muhammad saw.
9. Rasulullah SAW menegaskan: “Rantai Kerasulan dan Kenabian telah sampai pada akhirnya. Tidak akan ada lagi rasul dan nabi sesudahku”. (Tirmidhi, Kitab-ur-Rouya, Bab Zahab-un-Nubuwwa; Musnad Ahmad; Marwiyat-Anas bin Malik).Idem. Lihat diatas ttg maksud “laa nabiyya ba’di”.
10. Rasulullah SAW menjelaskan: ‘Saya Muhammad, Saya Ahmad, Saya Pembersih dan kekafiran harus dihapuskan melalui aku; Saya Pengumpul, Manusia harus berkumpul pada hari kiamat yang datang sesudahku. (Dengan kata lain, Kiamat adalah satu-satunya yang akan datang sesudahku); dan saya adalah Yang Terakhir dalam arti tidak ada nabi yang dating sesudahku”. (Bukhari dan Muslim, Kitab-ul-Fada’il, Bab Asmaun-Nabi; Tirmidhi, Kitab-ul-Adab, Bab Asma-un-Nabi; Muatta’, Kitab-u-Asma-in-Nabi; Al-Mustadrak Hakim, Kitab-ut-Tarikh, Bab Asma-un-Nabi).
Bagaimana dengan pemahaman Hz. Aisyah ra? Beliau berkata: “Katakanlah, sesungguhnya ia [Muhammad] adalah khaatamul-anbiya’, tetapi jangan sekali-kali kamu mengatakan laa nabiyya ba’dahu (tidak ada Nabi sesudahnya)” (Durrun Mantsur, jld. V, hlm. 204; Takmilah Majmaul Bihar, hlm. 5)
Lagi, dipertegas dan dibenarkan oleh ulama-ulama Salaf sebagai berikut:
Syekh Muhyiddin Ibnu Arabi r.h. dalam kitabnya Futuuhatul Makiyyah menulis: “Inilah arti dari sabda Rasulullah s.a.w.. Sesungguhnya risalah dan nubuwat sudah terputus, maka tidak ada Rasul dan Nabi yang dating sesudahku yang bertentangan dengan Syari’atku. Apabila ia datang, ia akan ada di bawah Syari’atku’”. (Futuuhatul
Makiyyah, Ibnu Arabi, Darul Kutubil Arabiyyah Alkubra, Mesir, jld II, hlm. 3)
Imam Abdul Wahab Asy-Syarani r.h. berkata: “Dan sabda Nabi s.a.w.: tidak ada Nabi dan Rasul sesudah aku, adalah maksudnya: tidak ada lagi Nabi sesudah aku yang membawa Syari’at’” (Al-Yawaqit wal Jawahir, jld. II, hlm. 42)
Imam Thahir Al Gujrati berkata: “Ini tidaklah bertentangan dengan Hadits tidak ada Nabi sesudahku, karena yang dimaksudkan ialah tidak akan ada lagi Nabi yang akan membatalkan Syari’at beliau”. (Takmilah Majmaul Bihar, hlm. 85)
Sayyid Waliyullah Muhaddits Ad-Dahlawi berkata: “Dan khaatam-lah Nabi-Nabi dengan kedatangan beliau, artinya tidak akan ada lagi orang yang akan diutus Allah membawa Syari’at untuk manusia”. (Tafhimati Ilahiyyah, hlm. 53) .
Imam mazhab Hanafi yang terkenal, yaitu Mulla Ali al-Qari menjelaskan: “Jika Ibrahim hidup dan menjadi Nabi, demikian pula Umar menjadi Nabi, maka mereka merupakan pengikut atau ummati Rasulullah s.a.w.. Seperti halnya Isa, Khidir, dan Ilyas `alaihimus salaam. Hal itu tidak bertentangan dengan ayat Khaataman-Nabiyyiin. Sebab, ayat itu hanya berarti bahwa sekarang, sesudah Rasulullah s.a.w. tidak dapat lagi datang Nabi lain yang membatalkan Syari’at beliau s.a.w. dan bukan ummati beliau s.a.w.”. (Maudhu’aat Kabiir, hlm. 69).
Jadi, jelaslah maksud dan hakikat dari sabda suci Nabi saw: “laa nabiya ba’diy” (tidak ada nabi sesudahku) itu adalah seperti yang dijelaskan oleh Hz. Shiddiqah Aisyah ra dan para ulama terkemuka dalam dunia Islam.
11. Rasulullah SAW menjelaskan: “Allah yang Maha Kuasa tidak mengirim seorang Nabi pun ke dunia ini yang tidak memperingatkan ummatnya tentang kemunculan Dajjal (Anti-Kristus, tetapi Dajjal tidak muncul dalam Masa mereka). Aku yang terakhir dalam jajaran Nabi-Nabi Dan kalian ummat terakhir yang beriman. Tidak diragukan, suatu saat, Dajjal akan datang dari antara kamu”. (Ibnu Majah, Kitabul Fitan, Bab Dajjal). Dalam banyak kitab Hadits shahih ditemukan bahwa dajjal akan dibunuh oleh Imam Mahdi/Al-Masih ibn Maryam.
Jadi jelas bahwa akan ada kenabian tanpa Syari’at setelah Hz. Rasulullah saw.
12. Abdur Rahman bin Jubair melaporkan: “Saya Mendengar Abdullah bin `Amr ibn-`As menceritakan bahwa suatu Hari Rasulullah SAW keluar dari rumahnya dan bergabung Dengan mereka. Tindak-tanduknya memberi kesan seolah-olah Beliau akan meninggalkan kita. Beliau berkata: “Aku Muhammad, Nabi Allah yang buta huruf”, dan mengulangi pernyataan itu tiga kali. Lalu beliau menegaskan: “Tidak ada lagi Nabi sesudahku”. (Musnad Ahmad, Marwiyat `Abdullah bin `Amr ibn-`As).Lihat penjelasan diatas dari Hz. Siti Aisyah ra dan para ulama SALAF di no. 10.
13. Rasulullah SAW berkata: ” Allah tidak akan mengutus Nabi sesudahku, tetapi hanya Mubashirat”. Dikatakan, apa yang dimaksud dengan al-Mubashirat. Beliau berkata: Visi yang baik atau visi yang suci”. (Musnad Ahmad, marwiyat Abu Tufail, Nasa’i, Abu Dawud). (Dengan kata lain tidak ada kemungkinan turunnya wahyu Allah di masa yang akan datang. Paling tinggi, jika seseorang mendapat inspirasi dari Allah, dia akan menerimanya dalam bentuk mimpi yang suci). Yang ada dalam tanda kurung di kalimat terakhir: “Dengan kata lain tidak ada kemungkinan turunnya wahyu Allah di masa yang akan datang. Paling tinggi, jika seseorang mendapat inspirasi dari Allah, dia akan menerimanya dalam bentuk mimpi yang suci” – adalah bukan bagian dari Hadits. Itu adalah tulisan dan interpretasi Maududi, Seorang kyai/mullah/ulama Pakistan penentang sengit Ahmadiyah. Mengapa manusia (Maududi dan fans berat-nya seperti Nizami dkk) kok berani mengatakan bahwa wahyu tidak boleh turun lagi? Apakah manusia dapat meng-intervensi sunnah Allah? Bukankah Allah Ta’ala bersifat Mutakallim (Maha Berkata-kata), sehingga sifat tsb akan tetap bekerja untuk selama-lamanya Sebagai informasi, banyak diantara umat Islam yang juga menerima wahyu dari Allah Ta’ala seperti: Syekh Muhyiddin Ibn Arabi rh (Bapak kaum Sufi), Khawajah Miir Dard rh, Abdullah Ghaznawi rh, Syekh Abdul Qadir Jaelani rh dll.
14. Rasulullah SAW berkata: “Jika benar seorang Nabi akan datang sesudahku, orang itu tentunya Umar bin
Khattab”. Tirmidhi, Kitab-ul-Manaqib). Oleh karena nabi Muhammad saw yang diutus, maka Hz. Umar ra tidak diutus sebagai nabi. Jadi bukan tidak akan ada nabi yang akan diutus. Disini ada satu hal yang harus mendapat perhatian. Kenapa Nabi saw tidak menyebut nama Abu Bakr ra, padahal Abu Bakr seorang shiddiq, lebih tinggi dari Umar yang berpangkat syahid? Rahasianya adalah Sayyidina Umar ra diketahui oleh Rasulullah saw mempunyai bakat hokum undang-undang) melebihi dari para sahabat lainnya, termasuk Abu Bakr. Sering Hz. Umar memberikan saran kepada Hz. Rasulullah saw, dan akhirnya turun ayat-ayat yang membenarkan saran Hz. Umar tsb. Jadi, maksudnya Hadits ini adalah bahwa tidak akan datang nabi yang akan membawa Syari’at (hukum/undang-undang).
15. Rasulullah SAW berkata kepada `Ali,
“Hubunganmu denganku ialah seperti hubungan Harun dengan Musa. Tetapi tidak ada Nabi yang akan datang sesudahku”. (Bukhari dan Muslim, Kitab Fada’il as-Sahaba). Perkataan “laa nabiyya ba’diy” jelas khusus untuk Hz. Ali ra dan tidak berlaku untuk umum. Sebab kita temukan penegasannya atas Hadits itu dalam Hadits lain sbb: “Berkata ia (Rasulullah saw), “Wahai Ali, tidakkah engkau suka mempunyai kedudukan Harun disamping Musa, tetapi bedanya engkau bukan nabi” (Thabaqat Kabir, Jilid V, hal. 15).
16. Rasulullah SAW menjelaskan: “Di antara suku Israel sebelum kamu, benar-benar ada orang-orang yang
Berkomunikasi dengan Tuhan, meskipun mereka bukanlah NabiNYA. Jika ada satu orang di antara ummatku yang akan berkomunikasi dengan Allah, orangnya tidak lain daripada Umar. (Bukhari, Kitab-ul-Manaqib)
Telah terjawab dengan sangat jelas bahwa bukan hanya Hz. Rasulullah saw saja yang dapat “berkomunikasi” dengan Allah Ta’ala, orang yang bukan nabi juga dapat menerima anugerah wahyu (komunikasi) dengan Allah Ta’ala. Jadi, omongan Maududi dan para fans beratnya seperti Nizami dkk yg mengatakan bahwa wahyu enggak boleh turun lagi setelah Nabi Muhammad saw telah dibantah oleh Hadits ini.
17. Rasulullah SAW berkata: “Tidak ada Nabi yang akan dating sesudahku dan karena itu, tidak akan ada ummat
lain pengikut nabi baru apapun”. (Baihaqi, Kitab-ul-Rouya; Tabrani) Jawab : Pengertian “laa nabiyya ba’di” telah dijelaskan dengan komprehensif diatas.
Salam,
M. A. Suryawan
Bacalah artikel tentang Islam di:
http://www.nizami.org
Oleh: Jamaluddin Feeli on Oktober 26, 2009
at 9:03 am
10 DALIL AYAT-AYAT QUR’AN SUCI TENTANG KEDATANGAN
NABI/RASUL SESUDAH NABI MUHAMMAD SAW.
Nubuwat atau kenabian adalah suatu kurnia dan nikmat yang tertinggi dari Allah Swt. yang semenjak dahulu kala diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang terpilih dan diridhai-Nya. Mereka yang terpilih ini dinamakan Nabi dan Rasul selaku petugas Allah Taala untuk memperbaiki keadaan ummat manusia dan menghubungkan kembali dengan Khalik-nya.
Adalah Sunnatullah, bahwasanya apabila kegelapan dan keburukan telah sampai ke puncaknya, Dia mengutus Nabi-Nya untuk menghilangkan kegelapan dan memperbaiki keburukan-keburukan itu. Dengan kedatangan mereka bertukarlah kegelapan menjadi terang dan keadaan yang buruk menjadi baik.
Dalam kalangan ummat Islam sekarang timbullah satu faham, bahwa setelah wafat Nabi Besar Muhammad saw. tidak ada lagi nabi sekalipun hanya nabi yang tidak membawa syariat baru. Padahal Allah Taala tidak menjamin bahwa di masa yang akan datang tidak akan ada lagi keburukan dan kesesatan. Sebaliknya kita membaca khabar-khabar dan nubuwatan dari Rasul Suci Muhammad saw. bahwa amanat-amanat dan kejujuran akan hilang. Bohong dan kepalsuan akan berjangkit sehebat-hebatnya, Islam akan tinggal namanya, Al-Qur’an akan tinggal tulisannya dan alim ulama seburuk-buruk manusia di bawah kolong langit. Bukankah patut disayangkan, bahwa pintu dari segala keburukan terbuka selebar-lebarnya bagi ummat, tetapi pintu nubuwat yang akan membasmi dan memperbaikinya tertutup sama sekali?
Islam adalah agama yang sempurna untuk segala bangsa dan sepanjang masa tidak akan berobah-obah sampai akhir zaman (hari kiamat). Tetapi Nabi yang tidak membawa syariat baru, tidak merobah syariat Islam walaupun sebesar biji sawi; nabi yang seratus persen tunduk kepada aturan dan ajaran Islam serta memperkuat dan menyatakan kebenaran agama yang dibawa oleh Rasul Suci saw. dan memenangkannya kembali di saat-saat orang-orang Islam mabuk dalam keduniaan serta jauh sama sekali tindak tanduknya dalam mengkhidmati Islam, kita akui ada dan seterusnya akan ada. Di berbagai tempat Al-Qur’an Suci menjelaskan adanya Nabi yang seperti itu.
Adapun Dalil-dalil tersebut adalah
Dalil Pertama adalah Surat Al Fatihah ayat 6 dan 7
:
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (٦)
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ (٧)
Artinya :
6. Tunjukilah kami jalan yang lurus,
7. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
Surah Al-Fatihah adalah sebagai intisari dari surah-surah yang jumlahnya 114. Oleh karenanya do’a yang diajarkan dalam surah tersebut menjadi intisari doa’doa yang tersebut dalam Qur’an. Do’a yang dipanjatkan pada Tuhan ada yang disusun kata-katanya oleh yang memohon sendiri, ada yang diatur bunyinya oleh Nabi, ada pula do’a yang disusun oleh Allah Swt. sendiri yang diperintahkan kepada tiap-tiap ummat Islam laki-laki dan perempuan memohonkannya pada tiap rakaat sembahyang, tidak kurang diucapkan 30 x dalam sehari semalam.
Do’a yang telah diajarkan oleh Allah Swt. itu sudah tentu lebih didengar oleh Allah Swt. dibandingkan dengan do’a yang disusun oleh pemohon sendiri. Dan Tuhan tentu dan pasti akan mengabulkannya karena mustahil Tuhan menyuruh kita minta sesuatu yang tidak akan diberi-Nya. Menurut ayat ke-6 dan ke-7 dari surah Al-Fatihah tersebut di atas itu, Allah telah memerintahkan kepada ummat Islam supaya sebagai ummat meminta kepada-Nya agar nikmat-nikmat yang pernah diterima oleh ummat dahulu terutama kaum Bani Israil (Yahudi), diberikan pula kepada ummat Islam. Adapun nikmat yang telah diberikan Allah kepada Bani Israil, ialah KENABIAN dan KERAJAAN.
وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَعَلَ فِيكُمْ أَنْبِيَاءَ وَجَعَلَكُمْ مُلُوكًا وَآتَاكُمْ مَا لَمْ يُؤْتِ أَحَدًا مِنَ الْعَالَمِينَ (٢٠)
Artinya :
20. dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat Nabi Nabi diantaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun diantara umat-umat yang lain”. (QS Al Maida [5]:20}
Ayat ini dengan tegas menjelaskan, bahwa ummat Islam akan menerima kedua macam nikmat tersebut. Nikmat yang kedua sudah sempurna yaitu sudah banyak sekali di kalangan ummat Islam yang telah menjadi Raja-raja dan nikmat yang pertama pasti akan sempurna pula. Ummat Islam adalah ummat terbaik yang pernah muncul ke dunia.
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ (١١٠)
Artinya :
110. kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.
KESIMPULAN :
Allah menyuruh ummat Islam meminta dua nikmat besar yang pernah diperoleh ummat-ummat terdahulu, yaitu Nubuwat dan Kerajaan. Allah pasti akan kabulkan, karena Dia menyuruh memintanya pada siang atau malam hari. Dan ummat Islam adalah ummat terbaik, harus mendapat nikmat-nikmat besar.
Dalil kedua adalah Surat Ali Imran ayat 179
مَا كَانَ اللَّهُ لِيَذَرَ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ حَتَّى يَمِيزَ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُطْلِعَكُمْ عَلَى الْغَيْبِ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَجْتَبِي مِنْ رُسُلِهِ مَنْ يَشَاءُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَإِنْ تُؤْمِنُوا وَتَتَّقُوا فَلَكُمْ أَجْرٌ عَظِيمٌ (١٧٩)
179. Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam Keadaan kamu sekarang ini[254], sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin). dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya[255]. karena itu berimanlah kepada Allah dan rasul-rasulNya; dan jika kamu beriman dan bertakwa, Maka bagimu pahala yang besar. [QS Ali Imran [3]:179)
Ayat ini jelas dan terang sekali memberi khabar suka kepada ummat dengan kedatangan Rasul-rasul dan diwajibkan pula untuk mengimaninya. Al-Allamah Abu Hayyan menafsirkan ayat tersebut dalam kitab tafsirnya Al-Bahrul Muhith jilid III kaca 126-127 yang berbunyi :
Maksud ayat tersebut sebagaimana yang kami terangkan, bahwa Allah-lah yang akan membedakan antara yang buruk dan yang baik; lantas Dia terangkan lagi, bahwa kamu tidak mengetahui hal tersebut karena Dia tidak memberitahukan kepada kamu apa yang tersembunyi dalam hati, baik iman maupun nifaq(lain di luar, lain di dalam). Tetapi Allah akan memilih siapa yang dikehendaki-Nya dari Rasul-rasul-Nya maka kamu baru akan dapat mengetahuinya dengan perkataan Rasul itu.
Kemudian di bawah ayat “Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya” tersebut, Allamah Abu Hayyan menulis :
Setelah ia sebutkan bahwa Allah Taala akan memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara Rasul-rasul-Nya untuk menerima khabar-kabar ghaib, maka Dia perintahkan supaya ummat mempercayai orang yang dipilih Tuhan itu.
KESIMPULAN :
Manusia, biar ulama ataupun raja, tidak dapat mengetahui tepat dan pasti, siapa di antara ummat Islam yang mukmin dan siapa yang munafiq. Hal ini hanya Allah-lah yang mengetahuinya. Manusia tidak dapat membedakan antara orang mukmin dan yang munafiq, kecuali diberitahukan oleh Allah sendiri. Allah tidak akan memberitahukan hal tersebut kepada tiap-tiap orang, tetapi Allah akan memilih di antara ummat siapa yang dikehendaki-Nya menjadi Rasul dan kepadanyalah Dia akan memberitahukan khabar yang tidak diketahui orang itu.
Dalam ayat tersebut ada kalimat YAJTABI (memilih). Kalimat itu adalah fi’il mudhari’ (tegenwoordige en toekomende tijd = present and future tense) yang boleh diartikan dengan : sedang atau akan memilih. Oleh karena waktu ayat itu turun tidak seorang Rasul sedang dipilih (karena Nabi Muhammad saw. sudah lama terpilih), maka diartikan akan memilih. Kemudian Allah menyuruh supaya kita beriman kepada-Nya dan kepada Rasul-rasul-Nya itu. Perintah itu kepada kita (ummat di belakang Rasulullah aw.), bukan kepada ummat yang dahulu, karena orang yang sudah mati tidak perlu diperintah lagi.
Dalil ketiga adal Surat An Nisa ayat 69
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا (٦٩)
69. dan Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, Yaitu: Nabi-nabi, Para shiddiiqiin[314], orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS An Nisa [4]:69)
Jelasnya mereka sebagai ummat selaras dengan keimanan, kesetiaan dan keikhlasan mereka masing-masing, dan taufiq Ilahi menyertainya pula dapat menerima keempat kedudukan tersebut di atas.
Kalimat “Ma’a” berarti “Min” (dari). Perkataan ma’a dalam ayat tersebut bukanlah berarti “serta”, “beserta”, tetapi berarti min (dari) atau termasuk golongan. Penggunaan perkataan ma’a dengan arti min seperti ini terpakai juga dalam Al-Qur’an, seperti :
قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا لَكَ أَلا تَكُونَ مَعَ السَّاجِدِينَ (٣٢)
32. Allah berfirman: “Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu?” (QS.[15]:32)
Hal ini dikuatkan oleh ayat 11 dari surah Al-‘Araf yang menggunakan kata min ( من ) untuk maksud yang sama, berbunyi :
وَلَقَدْ خَلَقْنَاكُمْ ثُمَّ صَوَّرْنَاكُمْ ثُمَّ قُلْنَا لِلْمَلائِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ فَسَجَدُوا إِلا إِبْلِيسَ لَمْ يَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ (١١)
11. Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada Para Malaikat: “Bersujudlah kamu kepada Adam”, Maka merekapun bersujud kecuali iblis. Dia tidak Termasuk mereka yang bersujud. (QS Al A’raf [7]:11)
Tegasnya surah An-Nisa ayat 69 tersebut diatas berarti orang-orang yang mengikuti Allah dan Rasul-Nya akan termasuk golongan Nabi-nabi, Siddiq, Syahid dan Shaleh. Bukanlah hanya beserta saja (tidak menjadi).
Jika ma’a dalam ayat ini diartikan dengan “beserta” saja, maka ayat seluruhnya akan berarti, bahwa orang-orang yang mengikuti Allah dan Rasul-Nya hanya beserta Nabi (bukan menjadi Nabi), beserta Siddiq (bukan menjadi Siddiq), hanya beserta Syahid (tidak menjadi Syahid) dan hanya beserta Shaleh (bukan menjadi Shaleh). Penafsiran demikian tidak dibenarkan, karena telah menjadi kenyataan, bahwa dalam Islam bukanlah terdapat orang-orang yang hanya beserta Siddiq, beserta Syahid dan beserta Shaleh, tetapi menjadi Siddiq, Syahid dan Shaleh.
Allamah Abu Hayyan berkata :
وَلَوْكَانَ مِنَ النَّبِيِّيْنَ مُتَعَلَّقًا بِقَوْلِهِ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَالرَّسُوْلَ لَكَانَ مِنَ النَّبِيِّيْنَ تَفْسِيْرٌ لِقَوْلِهِ وَمَنْ يُطِعِ فَيَلْزِمُ اَنْ يَكُوْنَ فىِ زَمَنِ الرَّسُوْلِ اَوْبَعْدَهُ اَنْبِيَاءٌ يُطِيْعُوْنَهُ.
Artinya:
“Dan jika perkataan minan nabiyyiina (dari Nabi-nabi) dihubungkan dengan perkataan waman yuthi’illaha warrasula (dan barang siapa mengikuti Allah dan Rasul), maka adalah perkataan minannabiyyiina itu tafsir (penjelasan) dari kalimat waman yuthi’illaha (barangsiapa yang mengikuti Allah). Maka dengan susunan seperti ini sudah pasti adanya Nabi-nabi pada masa Rasul atau kemudian yang akan mengikuti beliau” (Tafsir Bahrul Muhith, jilid III, halaman 247).
Dalil keempat adalah Surat Al Israa ayat 15
مَنِ اهْتَدَى فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا وَلا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولا (١٥)
15. Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), Maka Sesungguhnya Dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan Barangsiapa yang sesat Maka Sesungguhnya Dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan meng’azab sebelum Kami mengutus seorang rasul. (QS. Al Israa [17]:15)
وَلَوْ أَنَّا أَهْلَكْنَاهُمْ بِعَذَابٍ مِنْ قَبْلِهِ لَقَالُوا رَبَّنَا لَوْلا أَرْسَلْتَ إِلَيْنَا رَسُولا فَنَتَّبِعَ آيَاتِكَ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَذِلَّ وَنَخْزَى (١٣٤)
134. dan Sekiranya Kami binasakan mereka dengan suatu azab sebelum Al Quran itu (diturunkan), tentulah mereka berkata: “Ya Tuhan Kami, mengapa tidak Engkau utus seorang Rasul kepada Kami, lalu Kami mengikuti ayat-ayat Engkau sebelum Kami menjadi hina dan rendah?”(QS Tohaa [20]:134)
Dalam ayat yang lain Allah berfirman :
وَإِنْ مِنْ قَرْيَةٍ إِلا نَحْنُ مُهْلِكُوهَا قَبْلَ يَوْمِ الْقِيَامَةِ أَوْ مُعَذِّبُوهَا عَذَابًا شَدِيدًا كَانَ ذَلِكَ فِي الْكِتَابِ مَسْطُورًا (٥٨)
58. tak ada suatu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh). (QS Al Isroo [17]:58)
Dari ketiga ayat tersebut dapat kita mengambil kesimpulan, bahwa kedatangan Rasul-rasul sebelum hari kiamat bukan mungkin saja, bahkan harus dan pasti.
Dalil Kelima adalah Al Hajj ayat 75
اللَّهُ يَصْطَفِي مِنَ الْمَلائِكَةِ رُسُلا وَمِنَ النَّاسِ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ (٧٥)
Artinya :
75. Allah memilih utusan-utusan-(Nya) dari Malaikat dan dari manusia; Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha melihat.*QS. Al Hajj [22:75)
Dalam ayat ini jelas sekali pemilihan rasul-rasul akan tetap berlaku karena perkataan memilih dengan sigha mudhari’(present and future tense) yang harus diartikan sedang atau akan memilih, bukan telah memilih(past tense).
Oleh karena ayat ini turun setelah Rasulullah saw. terpilih dan waktu Nabi itu tidak ada terjadi pemilihan Rasul lagi, maka kalimat “YASHTAFI”(memilih) itu hanya dapat diartikan lagi dengan akan memilih (future tense). Mengartikan dengan telah atau sedang, adalah salah sekali.
Dalil Keenam adalah Surat Al Mu’min ayat 15
رَفِيعُ الدَّرَجَاتِ ذُو الْعَرْشِ يُلْقِي الرُّوحَ مِنْ أَمْرِهِ عَلَى مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ لِيُنْذِرَ يَوْمَ التَّلاقِ (١٥)
15. (Dialah) yang Maha Tinggi derajat-Nya, yang mempunyai 'Arsy, yang mengutus Jibril dengan (membawa) perintah-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya, supaya Dia memperingatkan (manusia) tentang hari Pertemuan (hari kiamat). (QS. Al Mu’min [40]:15)
Dalam ayat ini diterangkan turunnya “ruhul qudus” dan mundzir (yang memberi peringatan) dan mundzir itu ialah Nabi. Sebagaimana firman Allah dalam surah Ar Ra’ad ayat 7 yang berbunyi:
وَيَقُولُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلا أُنْزِلَ عَلَيْهِ آيَةٌ مِنْ رَبِّهِ إِنَّمَا أَنْتَ مُنْذِرٌ وَلِكُلِّ قَوْمٍ هَادٍ (٧)
7. orang-orang yang kafir berkata: “Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) suatu tanda (kebesaran) dari Tuhannya?” Sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi peringatan; dan bagi tiap-tiap kaum ada orang yang memberi petunjuk.QS[Ar Ra’d {13]:7)
Dalil Ketujuh dalah Surat Al Baqarah ayat 124
وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي قَالَ لا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ (١٢٤)
124. dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku” Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim”.
Singkatnya, Allah telah menjanjikan kepada keturunan Ibrahim a.s., bahwa kepada mereka akan diberikan pangkat kepemimpinan (nubuwat) untuk selama-lamanya. Tetapi (kata Tuhan) orang-orang aniaya tidak akan mendapatkannya sekalipun pangkat-pangkat yang lain menurut tingkat kesungguhan mereka masing-masing dapat mereka capai. Imamah (kepemimpinan) yang dimaksudkan ialah nubuwat seperti yang telah dicapai Nabi Ishak a.s., Nabi Yakub a.s., Nabi Ismail a.s., Nabi Yusuf a.s. dan Nabi-nabi sesudahnya.
Dalil Kedelapan adalah Al Muzammil ayat 15
إِنَّا أَرْسَلْنَا إِلَيْكُمْ رَسُولا شَاهِدًا عَلَيْكُمْ كَمَا أَرْسَلْنَا إِلَى فِرْعَوْنَ رَسُولا (١٥)
15. Sesungguhnya Kami telah mengutus kepada kamu (hai orang kafir Mekah) seorang rasul, yang menjadi saksi terhadapmu, sebagaimana Kami telah mengutus (dahulu) seorang Rasul kepada Fir’aun.(QS. Al Muzammil [73]:15)
Dalam ayat ini Nabi Muhammad saw. diserupakan dengan Nabi Musa a.s.. Kemudian dalam ayat lain:Surat An Nur ayat 55 Allah swt berfirman
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (٥٥)
55. dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. dan Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik.(QS.An Nur [24]:55)
Ayat-ayat tersebut diatas menegaskan bahwa Allah Taala akan meneruskan pemilihan-pemilihan khalifah dalam Islam, seperti terjadi dahulu pada Bani Israil telah terpilih pengganti-pengganti Nabi Musa a.s. yang jumlahnya sampai puluhan itu. Maka tidak ada alasan pemilihan tidak akan dilakukan lagi sesudah Nabi Muhammad saw. Sebab persamaan Nabi Muhammad saw. dengan Nabi Musa a.s. menghendaki supaya dalam ummat dari Nabi Muhammad saw. juga akan terpilih khalifah-khalifah.
Dalam ummat Nabi Musa a.s. terdapat banyak sekali nabi yang kedudukannya sebagai pembantu atau meneruskan syariat Musa a.s. seperti Nabi Harun a.s. sewaktu Nabi Musa a.s. masih hidup pernah menjadi khalifah bagi beliau. Seperti firman Allah :dalam Surat Al A’raf ayat 142
وَوَاعَدْنَا مُوسَى ثَلاثِينَ لَيْلَةً وَأَتْمَمْنَاهَا بِعَشْرٍ فَتَمَّ مِيقَاتُ رَبِّهِ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً وَقَالَ مُوسَى لأخِيهِ هَارُونَ اخْلُفْنِي فِي قَوْمِي وَأَصْلِحْ وَلا تَتَّبِعْ سَبِيلَ الْمُفْسِدِينَ (١٤٢)
142. dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), Maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam. dan berkata Musa kepada saudaranya Yaitu Harun: “Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan”.( QS. Al Araf [7]:142)
Bahkan Nabi-nabi yang di belakang Nabi Musa a.s. juga sebagai khalifah-khalifah bagi beliau dan hanya membantu menjalankan syariat kitab Taurat.sebagaimana Allah swt berfirman dalam surat
إِنَّا أَنْزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا لِلَّذِينَ هَادُوا وَالرَّبَّانِيُّونَ وَالأحْبَارُ بِمَا اسْتُحْفِظُوا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ وَكَانُوا عَلَيْهِ شُهَدَاءَ فَلا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلا وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ (٤٤)
44. Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara Kitab-Kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.(QS.Almaidah [5]:44)
Bukankah keliru sekali jika ada pendapat yang mengatakan bahwa dalam ummat Islam tidak akan ada Nabi yang mempunyai kedudukan sebagai khalifah atau pembantu bagi Nabi Muhammad saw. walau seorang pun. Jika demikian manakah di antara kedua ummat itu yang lebih berbahagia? Apakah isi dari firman Allah :Surat Al Imran ayat 110
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ (١١٠)
110. kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.
Dalil Kesembilan adalah Surat Al Baqarah ayat 259
يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلا أُولُو الألْبَابِ (٢٦٩)
269. Allah menganugerahkan Al Hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).
Dalam ayat ini diterangkan bahwa hikmat akan terus diberikan kepada ummat Islam. Adapun hikmat yang tersebut dalam ayat itu adalah nubuwat
اَلْحِكْمَةُ نُبُوَّةٌ وَاَصَابَةٌ فىِ اْلاُمُوْرِ. (الزرقانى شرح المواهب الدينية جلد - ¬ص )
Artinya:
“Hikmat artinya nubuwat (kenabian) dan betul dalam segala urusan”.
Maksud ayat tersebut jelas bahwa hikmat yang berarti nubuwat akan terus ada sampai hari kiamat.
Dalil Kesepuluh adalah Al Araf ayat 76
يَا بَنِي آدَمَ إِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ يَقُصُّونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِي فَمَنِ اتَّقَى وَأَصْلَحَ فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ (٣٥)
35. Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu Rasul-rasul daripada kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku, Maka Barangsiapa yang bertakwa dan Mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
Ayat tersebut diatas adalah mengandung khabar suka atas kedatangan Nabi untuk memperbaiki ummat manusia. Itulah sebabnya dalam kata “datang” di tambah huruf nun ( ن ) pakai tasydid yang mengkhususkan kepada masa yang akan datang.
Mereka yang sekarang memperhatikan ayat-ayat tersebut menganggap bahwa yang dimaksud dengan perkataan anak cucu Adam dalam ayat tersebut adalah manusia yang dahulu. Anggapan ini tidak betul, karena ayat ini umum dan tidak hanya tertentu kepada anak cucu Adam yang terdahulu saja sedang yang akan datang sesudah Al-Qur’an tidaklah keluar dari golongan anak cucu Adam.
Jika ditinjau dari susunan ayat-ayat yang terdahulu, maka akan lebih jelas lagi, bahwa cucu Adam yang tersebut dalam ayat ini, ialah manusia seumumnya, tidak tertentu kepada anak cucu Adam yang terdahulu saja. Lihat ayat 26, 27 dan 37 surat Al-A’raf. Para alim ulama Islam berpendapat, bahwa ketiga-tiga ayat tersebut adalah umum untuk semua anak cucu Adam.
QS. Al A’raf ayat 26
يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ ذَلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ (٢٦)
26. Hai anak Adam[530], Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. dan pakaian takwa[531] Itulah yang paling baik. yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, Mudah-mudahan mereka selalu ingat.
Ayat 27
يَا بَنِي آدَمَ لا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْآتِهِمَا إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لا تَرَوْنَهُمْ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ (٢٧)
27. Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman.
Ayat 37
فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِآيَاتِهِ أُولَئِكَ يَنَالُهُمْ نَصِيبُهُمْ مِنَ الْكِتَابِ حَتَّى إِذَا جَاءَتْهُمْ رُسُلُنَا يَتَوَفَّوْنَهُمْ قَالُوا أَيْنَ مَا كُنْتُمْ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالُوا ضَلُّوا عَنَّا وَشَهِدُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَنَّهُمْ كَانُوا كَافِرِينَ (٣٧)
37. Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat Dusta terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya? orang-orang itu akan memperoleh bahagian yang telah ditentukan untuknya dalam kitab (Lauh Mahfuzh); hingga bila datang kepada mereka utusan-utusan Kami (malaikat) untuk mengambil nyawanya, (di waktu itu) utusan Kami bertanya: “Di mana (berhala-berhala) yang biasa kamu sembah selain Allah?” orang-orang musyrik itu menjawab: “Berhala-berhala itu semuanya telah lenyap dari kami,” dan mereka mengakui terhadap diri mereka bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir.
Sumber :
1. Al Quran dan Terjemahannya Depag RI
2. Buku Kami Orang Islam PB JAI
Oleh: Jamaluddin Feeli on Oktober 26, 2009
at 9:16 am