Seringkali kalau kita mendengar kata ‘waktu’ rasanya seperti biasa-biasa saja dan berlalu begitu saja seolah-olah tanpa arti sama sekali. Hanya sedikit orang yang menyadari begitu pentingnya waktu dan memahami maknanya. Grup band Nidji dan Ungu adalah sebagian dari orang atau kelompok yang menyadari pentingnya waktu dan mendapat kesuksesan ketika berbicara soal waktu dalam tembang-tembangnya. Nidji meneriakkan kata-kata waktu dalam salah satu lagu dalam album perdananya yang sukses. Bahkan Ungu mengutip ayat pertama Surat Al-Ashr dari Al-Qu’ran untuk judul lagu hits-nya ‘Demi Waktu’ di album pertama yang laku keras di pasaran.

Orang Barat yang materialistik begitu meyakini arti pentingnya waktu sampai-sampai muncul ungkapan ‘time is money’. Albert Einstein si penemu teori relativitas juga penasaran tentang konsep waktu yang tidak pernah mendapat jawaban yang memuaskan dalam studi dan eksperimennya. Masih banyak rahasia tentang waktu yang belum bisa dijelaskan oleh manusia. Ilmu pengetahuan baru hanya sebatas mengungkap sebagian dan yang sudah diketahui jelas adalah bahwa manusia hidup dalam dimensi waktu selain dimensi tempat. Ketika waktu bergerak, maka kehidupan manusia pun berjalan dan manusia mengalami dimensi baru yang berbeda dengan dimensi pada saat sebelumnya. Fenomena inilah yang mengilhami fantasi manusia seperti yang diperlihatkan dalam film ‘Lorong Waktu’ versi Indonesia atau ‘Time Tunnel’ versi asingnya. Namun demikian pemahaman dan kesadaran seperti contoh di atas semata-mata hanya dalam kontek materi , fisik, atau cinta.

Bagaimana agama Islam berbicara tentang waktu? Islam menganggap waktu sangat penting. Banyak ayat Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah SAW yang menyoroti tentang waktu. Bahkan dalam Al-Qur’an ada sebuah Surat yang dinamakan WAKTU seperti yang dikutip oleh grup band Ungu di atas, yang bunyi lengkapnya sebagai berikut :

1) Demi waktu

2) Sesungguhnya manusia dalam keadaan merugi

3) Kecuali orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh serta

orang yang saling berwasiat dalam kebenaran dan saling

berwasiat dalam kesabaran (QS. Al Ashr)

Demikian pentingnya makna waktu, dalam surat Al-Ashr tersebut Allah SWT bersumpah tentang waktu agar diperhatikan oleh kaum muslimin, karena jika melalaikannya akan mengalami kerugian. Orang Islam diperintahkan untuk selalu berbuat baik, melakukan hal-hal yang bermanfaat, dan melakukan amaliah yang dikategorikan sebagai amal saleh di setiap saat. Seorang beriman tidak boleh hanya duduk berpangku tangan, bermalas-malasan, berbuat sesuatu tanpa tujuan yang jelas, atau hanya berkumpul untuk melakukan hal yang sia-sia seperti membicarakan keburukan orang lain, bergosip, bertengkar, saling meledek, dan sebagainya.

Juga tidak boleh berbuat hal-hal yang berdosa seperti tidak melaksanakan perintah-perintah agama dan tidak mejauhi perbuatan yang dilarang oleh agama. Karena sekali waktu berlalu, maka perbuatan buruk atau berdosa yang sudah dilakukan tidak dapat ditarik kembali dan akan dicatat sebagai sebuah dosa yang harus dipertanggung-jawabkan di akhirat kelak. Maka ketika kita sadar telah berbuat salah atau melakukan perbuatan dosa, maka hendaknya kita segera bertaubat dengan sungguh-sungguh (taubatan nasuha) dan tidak mengulangi perbuatan yang keliru tersebut.

Oleh karena itu kita harus memperlakukan waktu sebaik dan sebijak mungkin.’Waktu itu ibarat pedang (Assaa’atu kassaif)’, demikian bunyi sebuah Hadits Nabi Muhammad SAW yang mengingatkan kita agar berhati-hati dengan waktu. Pedang sebagai benda tajam itu akan berguna jika kita memanfaatkanya dengan benar, tetapi pedang juga bisa membunuh manusia bila disalah-gunakan. Karena itu bila kita salah memperlakukan waktu, maka kita akan terjebak dalam hal-hal tidak baik dan merugikan. Hendaknya kita selalu besabar dalam setiap keadaan dan dan tidak tergesa-gesa sebelum melakukan sesuatu agar kita tidak berbuat salah dan menyesal dikemudian hari. Jangan sampai waktu yang setiap saat dan setiap tarikan nafas kita lalui itu menjadi pembunuh yang tidak kita sadari. Jangan biarkan waktu berlalu begitu saja tanpa diisi dengan perbuatan yang baik, benar, dan bermanfaat.