Ditulis oleh Shandy bin Ustman

Menjalin persahabatan memang susah-susah gampang. Menjadi susah jika di antara kedua belah pihak ada yang nggak ngerti apa arti seorang sahabat dalam hidupnya. Akan menjadi gampang dan sangat mengasyikkan jika kedua belah pihak begitu merasakan arti seorang sahabat dalam kehidupannya. Asal dilandasi dengan keikhlasan dan saling menghargai, persahabatan bisa berubah menjadi persaudaraan yang kuat.

Persahabatan? Hm…gak pernah kebayang dibenakku untuk menjalinnya. Gak heran, karena dari kecil sampe remaja aku gak pernah punya orang yang layak disebut sebagai “sahabat”. Arti sahabat pun buat ku jadi rancu, “Apa ada sahabat itu?”

Rutinitas yang aku jalani hampir sama seperti anak-anak lainnya: sekolah-pulang-belajar. Cuma satu yang berbeda: kalo anak lain bisa puas main sesuka mereka, maka aku harus puas bermain di rumah bersama sepupuku. Walhasil, teman-teman sekampungku pun kurang mengenalku dan canggung padaku. Terlebih kami memang bukan penduduk asli kampung itu jadi mereka pun segan berteman denganku.

Masa remaja aku lalui biasa-biasa aja. Aku masuk SMK pada waktu itu. Di sana aku mengenal banyak orang dengan berbagai karakter, tapi tak satupun yang dapat aku andalkan jadi sahabat.
Padahal, kata orang, masa remaja adalah masa persahabatan yang menyenangkan,tapi bagiku, ahh…biasa aja.

Awalnya, aku gak begitu peduli, “Mau ada temen kek, enggak kek, toh aku masih bisa menjalani hariku.” Tapi akhir-akhir ini banyak masalah yang muncul dalam pikiranku.
Hari-hariku pun diisi dengan bengong, menyendiri di kamar sambil dengerin musik.

Tiba-tiba ada keinginan untuk meluapkan semua masalah yang aku rasakan, tapi siapa? Apa masih ada orang yang mau berteman dengan orang aneh kayak aku?.

Saat itu juga aku mendengar ada lowongan menjadi penyiar radio di salah satu stasiun radio swasta yang sedang aku putar. Sejenak aku berpikir, hm…mungkin ini jalan yang Allah kasih untukku dalam perjalanan mencari sosok sahabat.
Dengan terlebih dulu minta izin pada kakekku, dan menelpon orang tuaku di Jakarta, akhirnya aku mencoba mengikuti tes penyiar itu.

Singkat cerita, akhirnya dari 20 orang peserta, aku adalah salah satu dari 2 orang yang lulus tes. Senang, bingung, takut, dan gugup campur aduk semua di hatiku. Gimana nggak? Di antara sekian penyiar cuma aku yang masih sekolah, kelas 2 SMK pula. Itu artinya aku adalah penyiar termuda disitu.

Awalnya, kesan penyiar di mataku adalah seseorang yang supel, dandy, gaul,….etc. Tapi itu semua nggak ada pada diriku. Meskipun acara yang aku bawakan cukup dapat respon dari para pendengar.
Di sini pun aku nggak nemuin sosok sahabat yang aku cari, coz masyoritas penyiarnya cewek-cewek. Bayangin aja dari 10 orang penyiar, 6 diantaranya adalah mahasisiwi, 3 mahasiswa, dan 1 pelajar SMK yakni aku.

Setahun lebih aku menjalani hari-hariku sebagai penyiar di samping sebagai pelajar.
Sedikit bangga, karena di usiaku yang masih relatif belia, aku sudah bisa jajan tanpa harus mengandalkan uang bulanan dari orang tuaku.

Pasca lulus sekolah, aku memutuskan hengkang dari radio sebab aku terpilih jadi wakil sekolah untuk dikirim ke pabrik otomotif di daerah Cikarang. Setahun aku bekerja di pabrik itu. Setelah habis masa kontrak, aku pun mencari pekerjaan lagi.
Akhirnya aku mendapatkan pekerjaan di bidang yang sama namun kali ini di kawasan Karawang.

Nah di tempat yang baru inilah pandanganku tentang sahabat mulai terbuka.
Di sini, aku mengenal seorang teman. Dia seangkatan denganku, bahkan satu bagian denganku. Umur kami terpaut satu bulan saja, aku lebih muda darinya. Azwar namanya.
Dari luar, Azwar orangnya alim, sabar, dan menyenangkan meskipun setiap orang akan merasa takut jika melihat jenggot panjang dan celana di atas mata kakinya. Tapi buatku, dia adalah sosok yang bersahaja karena dia bisa jadi pendengar yang baik. Meskipun ia mengaku gak bisa kasih solusi, tapi i’ts okay toh dia pun udah ngehargain aku dengan mendengarkan masalah ku.

Hampir setahun kami berteman. Awalnya kami selalu bersama. Semua orang pun merasa iri dengan keakraban kami. Kami pun jadi icon buat mereka.
Pertemananku dengannya berjalan mulus hampir tanpa konflik.
Kami saling memberi, saling menasehati. Aku pun banyak belajar dari dia. Di mataku, dia merupakan seorang sahabat yang paling the best. Meskipun aku tahu dia gak pernah nganggap aku sebagai sahabatnya.

Sahabatku yang dulu kukenal, akhir-akhir ini berubah. Azwar menjadi orang yang tempramental, cuek, dan senang sendiri.
Aku kira ia sedang ada masalah. Karena aku tahu, meskipun kami lumayan dekat, ia belum sepenuhnya percaya padaku untuk saling berbagi dalam bebagai hal. Sikapnya itulah yang membuatku merasa tidak dihargai sebagai sahabat.

Tapi berkat penjelasannya, aku pun mengerti. Dan aku tak pernah bertanya lagi tentang apa yang sedang ia hadapi sekarang, kecuali kalo ia yang bercerita sendiri.

Sampai suatu saat Safira (nama samaran) hadir di kehidupan kami. Dia adalah teman satu kerja kami. Kami mengenal baik dengannya. Belakangan, Safira menjadi dekat dengan kami setelah ia putus dengan pacarnya.

Awalnya, ia cuma pengen punya temen yang bisa diajak ngobrol dan sekedar sharing. Lama-lama, Safira bisa begitu dekat denganku. Nggak heran karena ia lebih sering curhat padaku ketimbang sama Azwar.

Safira pernah bilang padaku kalo ia pengen berubah. Dan untuk membantu berubah, ia butuh pembimbing. Ia memintaku untuk membantunya. Tanpa pikir panjang aku pun bersedia membantunya. Itung-itung sekalian dakwah pikirku.

Makin lama karena kami sering komunikasi, kami pun semakin dekat. Banyak gossip-gosip miring yang mampir ditelingaku. Tapi aku gak peduli dan aku pun merasa gak perlu menjelaskan pada mereka.

Tapi justru yang bikin aku kecewa adalah sikap sahabatku yang berubah drastic. Kedekatanku dengan Safira justru menjauhkan aku dengan sahabatku.

Padahal selama ini aku sudah berusaha melibatkan ia dalam setiap masalah yang dialami Safira. Aku pun gak ngerasa kalo aku menjauhi ia, tapi apa yang terjadi? Azwar malah menganggap kalo dirinya cuma jadi penghalang kedekatanku dengan Safira. Ini yang aku sesalkan dari sahabatku. Kenapa ia punya pikiran sesempit itu?

Entah apa yang dipikirkan Azwar. Apa mungkin dia cemburu atas kedekatanku dengan Safira? Ah…nggak mungkin mengingat Azwar adalah sosok yang bersahaja dan pandai bergaul.

Tapi nyatanya sikap Azwar semakin jauh dari yang kukenal. Dan anehnya, dia bersikap seperti itu hanya padaku saja. Apa sebenernya salahku?

Suatu kali, aku pernah bertanya tentang satu hal padanya. Maksudku, cuma pengen mencairkan suasana aja. Tapi sayang, tanggapannya terkesan cuek. Kalo pun menanggapi, dia menanggapinya dengan sikap yang kurang bersahabat. Jujur hal ini membuat aku sakit hati. Tak ayal hal ini memicu perang dingin antara kita.

Aku pernah meminta maaf kepadanya. Tapi dia bilang, “Gak ada apa-apa, koq…”
Kalo gak ada apa-apa kenapa begini? Pikirku.

Perang dingin masih berlangsung. Saat ini walaupun kami sedang duduk atau jalan berdua tapi kami kayak orang yang nggak saling mengenal. Terasa jauh walaupun sebenarnya kita sangat dekat.

Aku kehilangan sosok Azwar, sahabatku yang bersahaja, selalu tersenyum, sabar, lemah lembut tapi tetap tegas.

Maafkan aku, sahabatku. Andaikata aku berbuat khilaf padamu dan kau sungkan berterus terang padaku, satu hal yang harus kau ingat:

Aku nggak pernah berharap menjadi orang terpenting dalam hidupmu. Itu terlalu berlebihan. Aku cuma pengen suatu hari nanti jika kamu mendengar namaku, kamu akan tersenyum dan berkata, “ITU SAHABATKU.”

sumber: http://majalah-elfata.com