Ahmad Nawawy (Bang Nawi), Adik Ustadz Rahmat Abdullah.

Kenangan Seorang Adik atas Abang Tercinta

Di antara orang yang sangat merasakah sentuhan Ustadz Rahmat, adalah adiknya sendiri, Ahmad Nawawy. Ia yang lahir tiga tahun setelah Ustadz Rahmat, benar-benar punya kenangan sangat mendalam dengan sang kakak yang selalu ia panggil Bang Mamak. Setelah ayah mereka tiada, Ustadz Rahmatlah yang menggantikan perannya sebagai ayah, sekaligus sebagai abang.

Kala itu, Nawawy kecil sudah terseret ke dalam kebiasaan minum minuman keras. Ia bahkan keluar SD sebelum sempat menamatkannya. “Saya ini bandel sejak kecil. Saya terjerumus ke miras sejak tahun 1973, berapa tahun setelah keluar dari SD di kelas empat. Terjerumusnya itu karena lingkungan, ingin nyoba-nyoba. Waktu itu anggur kolesom. Setelah itu minum arak. Jarang yang kuat, bahkan teman-teman itu suka dengan arak karena kadar alkoholnya 32 %, kalau anggur kolesom itu hanya 12 %,” cerita Nawawy.

Dalam kurun yang tak singkat itu, ustadz Rahmat tidak pernah henti-hentinya berusaha, mengajak, menasehati dengan caranya yang penuh kasih, bersahabat, dan satu lagi, tidak pernah bosan. Ia ingin agar adiknya yang sangat dicintainya, benar-benar keluar dari semua jalan yang sangat dibencinya itu.

Ustadz Rahmat biasanya mengajak Nawawy yang tengah mabuk untuk pergi. Nawawy sendiri tidak pernah bisa menolak. Ia mengakui bahwa kala itu tak ada seorang pun yang bisa menghalangi ulahnya. Bahkan encingnya pun dilawan. “Saya selalu bilang, uang yang saya pakai kan uang saya, yang minum juga saya,” kata Nawawy. Tapi kalau sudah didatangi Ustadz Rahmat. Ia merasa seperti dihipnotis. Ia pun naik ke atas motor tuanya.

Setelah itu Ustadz Rahmat membawanya jalan. Kadang ke Taman Ismail Marzuki (TIM). “Kalau mau pelarian, ke sini pelariannya. Ada drama, ada banyak lagi yang positif,” nasehat Ustadz Rahmat kepadanya. Kadang ia juga dibawa ke Cikoko, ke tempat sebuah padepokan silat. Tidak berhenti sampai di situ, untuk menghindarkan pergaulan Nawawy dengan lingkungan, ustadz Rahmat memasukkannya ke kursus Pusgrafin (Pusat Grafika Indonesia). “Waktu itu namanya PGI, saya kursus beberapa bulan,” kenang Nawawy.

Pernah suatu hari Nawawy menampar anak tetangga. Kakak ipar anak itu marah. Karena lebih besar dan tidak bisa melawan, akhirnya Nawawy mengambil pisau dan menunggu di depan rumahnya. “Setelah ustadz datang, ia menarik saya pulang. Saya pun menurut begitu saja.”

Nawawy juga mengisahkan kejadian lain, “Saya pernah gebukin tiga orang di RT4/4. Tak lama saya diajak pulang ustadz. Katanya, ‘Luka tamparan kamu itu besok juga hilang tapi hatinya tidak bisa. Meskipun kamu minta maaf mungkin di depan dimaafin karena takut, tapi hati sangat membekas lukanya. Itu minta amal kamu di akherat, itupun kalau amalnya banyak.’ Ini kata-kata yang sangat membekas hingga saat ini.”

Semua drama-drama hidup itu masih harus dijalani dengan segala upaya untuk bisa mencari nafkah. Di antaranya, melalui usaha sablon. Sebelumya, ayah mereka mewariskan usaha mesin cetak Hand-Press. Tetapi kemudian, mereka ingin menjalankan usaha sablon. Waktu itu masih langka. “Buku tentang sablon itu diterjemahkan ustaz Rahmat. Bukunya berbahasa Inggris. Belum ada terjemahannya. Karena kita ingin bisa nyablon maka dibelilah buku itu di Senen, Gunung Agung. Dan biasanya kita setelah buku ini diterjemahkan.”

Usaha itu mereka namakan ARACO (Abdullah, Rahmah/Rahmat/Rahmi Company). Ustadz Rahmat lah yang biasa mencari order. Kesibukan baru mulai mengisi hari-hari Nawawy. Tapi pergulatan batin belum usai.

Kecintaan Ustadz Rahmat kepada adiknya tak pernah pupus. Meski getir, ia tetap mencintainya sepenuh hati, lebih dari sekadar cinta seorang kakak, tapi cinta seorang yang punya keyakinan, bahwa ia harus berbagi jalan yang sama dengan saudara kandungnya: jalan orang-orang beriman.

Makanya, segala cara ia lakukan. Termasuk menuliskan surat khusus, melalui pos, yang ia kirim dari Tebet, saat ia tinggal di daerah sana untuk sebuah keperluan.

Jakarta, 19 Rabi’ul Awwal 1399 H

16 Februari 1979 M

Kehadapan

Saudaraku A. Nawawy

Di

Jakarta

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Adalah kenyatan yang tidak bisa diingkari bahwa sampai hari ini seakan kita hidup sendiri-sendiri, jauh dan asing. Tak usah saya katakan apa yang menyebabkan kenyataan ini, tetapi bagaimanapun saya yakin bahwa antara kita masih ada ikatan betapapun lemahnya ikatan itu sekarang. Dan saya percaya tentu kau masih mengakui saya. ini salah seorang saudaramu, orang yang dekat dengan hatimu, seperti juga halnya kau menduduki tempat tersendiri dalam hatiku. Hanya sayang kita seperti orang-orang bisu, saya tak mampu mengungkapkan perasaan saya, betapapun perhatian saya untuk kemajuanmu, betapapun maklum saya terhadap minatmu untuk maju, betapapun ujian hidup yang kau hadapi.

Saya katakan bahwa saya adalah manusia juga. Dengan segala kelemahan, dengan segala kealpaan. Orang mungkin menuduh saya tak memperhatikan perkembangan keluarga, khususnya kau, adikku, tetapi saya menolak tuduhan itu. Iya, betapa lemahnya alasan saya. Semua itu tiada lain sebabnya kecuali karena saya hidup bagaikan dalam penjara, dalam belenggu yang mengikat sangat keras. Kekhayalan, cita-cita, ide baik dan saran-saran terbang pergi begitu saja, tanpa saya melahirkannya dalam bentuk kata-kata, apalagi dalam kenyataan.

Saya ingin kau memahami ini semua. Saya ingin kau memaafkanku yang sampai hari ini belum menunaikan kewajibanku kepadamu. Dan saya ingin kau melihat diriku sebagai orang yang sama-sama punya problem, punya persoalan, punya rasa sedih dan gembira, harapan, kekhawatiran dan berbagai rasa fitrah manusia. Dan dengan itu pula kuharap kau mau membagi duka. Bersama-sama memecahkan persoalan apa kiranya yang sedang kau hadapi, tanpa mencari sendiri, menanggungkannya dan melarikannya dengan caramu sendiri. Sebelum ini saya berada di puncak kebingungan, saya tak tahu apa yang harus kulakukan, apa yang harus kutuliskan, sementara jam terus berputaran mengurangi usia, kosong tanpa hasil apa-apa, selain kegetiran hidup, kepedihan yang menusuk hati. Suatu kekhawatiran yang tak tahu saya bagaimana bentuknya dan terhadap apa, telah merasuki jiwaku. Dia mengikutiku, kemana pergi, menggelisahkanku, mengejar-ngejar dan menuntut, menggugat suatu tanggung jawab. Saya tak mampu menggambarkan lebih jelas apa bentuk kekhawatiran itu. Saya Cuma bisa menghubungkan kekhawatiran itu pada dirimu, saya takut sesuatu menimpamu, menyusahkanmu dan merenggutmu.

Marilah kita menarik pelajaran dari masa lalu, menarik manfaat, mensyukuri kenyataan baiknya dan menghindari kenyataan ruginya agar tak terulang lagi. Saya yakin betapapun jauhnya kita selama ini, namun kau tentu tak menutup pintu untuk satu dua patah kata dariku sebagai tanda bahwa saya masih punya hati untuk memahami dan menghayati perasaan orang lain.

Ada sesuatu dalam diri kita yang sangat penting dan besar nilainya, yang sekalipun kita berdusta kepada dunia, namun tak bisa berdusta kepada-Nya. Itulah nurani, bashirah. Allah memberikan kita bashirah dan memberikan penjaga bashirah itu, yaitu iman. Dialah yang mampu membendung bisik-bisik selintas dari nafsu angkara. Sayang banyak orang menodai nuraninya sendiri, hingga suram dan tak bisa melihat lagi:

“Sesungguhnya mata (lahir) mereka tiada buta, tetapi hati yang dalam dada merekalah yang buta….” (Surat Al Hajj, XXII, ayat 46)

Marilah kita dengan sekuat kemampuan berkorban, baik waktu, perasaan, tenaga dan apa yang dapat kita korbankan demi hidupnya nurani, demi hidup yang lebih layak. Saya pikir adalah bijaksana bila saya menyerahkan kepadamu untuk mencari dan menyelidiki sendiri apa yang sedang saya rasakan tentang dirimu. Saya tak mampu menggambarkan, karena soal itu sangat abstrak, samar dan terjadi semata karena getaran perasaan halusku. Semoga baik baik sajalah hendaknya. Semoga kekhawatiran itu Cuma angan-angan, bukan kenyataan. Sekali lagi kukatakan, kau lebih tahu apa yang sedang kau hadapi, apa yang sedang menimpamu, dan apa kata hati nuranimu, selama hati nurani itu tidak disuramkan putus asa dan apatis, serta kekerasan hati…..

“Tetapi, manusia itu ada nurani (bashirah) dalam dirinya, betapapun dia melontarkan alasan-alasannya. ” (Surat Qiyamah -LXXV- ayat 14-15)

Semoga kata-kataku mendapat tempat di hatimu. Kuharap kau jangan kecewa atas segala sikapku. Aku selalu membuka kemungkinan untukmu. Maafkan daku atas segala kealpaanku. Terimalah kebenaran darimanapun datangnya. Terima kasih, sampai jumpa.

Salamku,

Rahmat Abdullah

Surat itu begitu membekas. “Ketika saya terima surat itu, saya menangis. Ayah sudah tidak ada, dan ustadz itulah sebagai ayah. Kata-kata dalam surat itu yang terkesan sekali. Saya tidak bisa lupa, ketika ia mengutip ayat Allah, ‘Bahwa manusia itu punya bashirah, meski ia menguraikan alasan-alasannya,’” kata Nawawy. Tak berlebihan, bila surat itu ia beri tanda jam berapa ia terima: pukul 13.30.

Beberapa bulan kemudian, Ustadz Rahmat kembali menulis surat, menuangkan segala perasaan hatinya tentang adiknya. Cinta, harap, cemas, dan segala yang teraduk-aduk tertumpah di sana. Dengan pengantar yang sangat menyentuh, ia kirimkan surat itu.

Jakarta, 16 Syawal 1399 H

8 September 1979 M.

Menjumpai seorang yang lahir dari benih sah ayah-bundaku

A. Nawawy Abdullah

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu’alaikum wr. Wb.

Aku tahu bahwa aku menyusun kata-kata seperti begini dalam masa ini dimana engkau mengikuti alur rasa dari jiwamu, sama dengan perang melawan arus yang melanda, betapa beratnya. Dan betapa mulianya, kuyakini.

Aku tak berhak memaksakan apapun kepadamu, dan memang itu tidak perlu. Masing-masing kita punya hati nurani, yang walaupun kita bisa mendustai manusia sedunia, namun kita tidak bisa mendustainya. Dengan itulah kita menimbang untung-rugi sebuah perjalanan. Hanya saja aku meminta kau sudi mendengarkan kata hatiku, memperhatikan sekadar harapanku, semoga ada gunanya bagi dirimu.

Adikku, aku tidak bisa mengatakan dengan pasti apa yang kau jalani sekarang ini. Kau lebih tahu. Mata orang banyak sekarang tertuju ke sebuah keluarga, keluarga kita, yang pernah menjadi titik pandang orang banyak. Terserahlah komentar mereka. Cuma satu hal yang harus kau perhatikan, bahwa kita hidup tidak sendirian di dunia ini. Ada tata aturan yang mengikat yang bila dilanggar mungkin akan terasa akibatnya sekarang juga, baik berupa kerugian kehormatan, kesehatan atau apa lagi yang bernilai. Masih segar dalam ingatan bagaimana musibah menimpa keluarga ini beberapa tahun yang lalu. Hampir sebuah masa depan lenyap begitu saja, hancur oleh tangan-tangan kotor orang-orang angkuh yang menganggap dirinya mampu melakukan banyak hal, mampu menjaga diri dari banyak kesukaran. Sampai detik ini akibat itu masih berlangsung. Dan bukan itu saja, berapa lagi korban yang sama berjatuhan.

Baru-baru ini seperti kau rasakan kengerian menghantui diriku, tentang sesuatu yang tidak kuperbuat, namun akibatnya akan kurasakan. Begini, maksudku… Kau tahu beberapa orang yang terlibat dalam kegiatan beberapa tahun lalu, dimana seorang anggota keluarga kita jatuh; kemana itu rekan-rekan “sependeritaan?” Mana tanggung jawab mereka? Mana itu kesetiakawanan? Mana pembelaan? Mereka terus dengan segala keangkuhan mempertontonkan perlawanan kepada Tuhan, seakan menentang kapan azab-Nya tiba. Aku takut mungkin kata-kataku tidak bernilai dalam pandangmu sekarang ini, tetapi aku ingin membuktikan bahwa akupun terus mengikuti perkembanganmu dengan hati yang luluh gelisah, kecewa. Aku ingin Tuhan menerima pengakuanku bahwa satu masa dari hidupku, pernah aku mengatakan sesuatu, atau menuliskan sesuatu yang merupakan suatu kewjiban, pahit. Jangan sampai jatuh lagi korban dalam keluarga ini. Ya, tak seorangpun merasa dirinya bakal celaka oleh tindakannya dan dengan angkuhnya dia berbuat, seakan kemarin tidak ada seorang teman yang mati dengan usus terbakar alkohol, atau otak rusak oleh asap celaka.

Kau tak bisa mengatakan bahwa kau menderita sendirian, menanggung semua itu seorang diri. tidak. Kau ingat bagaimana susahnya kita semua karena musibah yang menimpa seseorang dari anggota keluarga. Kemana itu keangkuhan, kebanggaan kepada kekuatan badan dan akal.? Aku kehilangan banyak hal dalam hidup ini. Harapanku, jangan engkau mengikuti lagi jejak lama yang telah terlalu banyak meminta pengorbanan. Belum terlambat. Tegakkan dengan pribadi yang jantan., tak ada gunanya menghindari kenyataan hidup dengan berlari ke garis khayal, dengan melawan hati nurani dan melontarkan alasan kepada lingkungan, situasi. Ciptakan kesempatan, jangan dinanti atau menyerah. Aku merasa bahwa sekarang ini akupun tak berharga lagi dalam pandanganmu, biarlah, aku tak mengharapkan itu semua, hanya pintaku jagalah dirimu. Jiwaku menjerit saat ini, aku tahu kau tak mendengar jeritan itu, tak merasakan hatiku yang luluh, gelisah, kengerian bercampur baur menjadi satu. Apakah sepanjang hidupku aku hanya harus melihat ketegangan demi ketegangan, kesombongan orang-orang yang begitu enaknya menyeret saudaraku ke kancah dunia mereka, lalu melemparkan korban itu untuk kami pikul dengan segala hina yang mencoreng muka, derita yang tak tentu bentuknya…

Semua nasehat-nasehat itu ia sampaikan sepenuh perasaan, segenap jiwa dan dengan seluruh cinta. Tak cukup sampai di situ. tahun 1982, Nawawy diajak mengaji secara intesif dalam sebuah halaqoh oleh Ustadz Rahmat. Tetapi ia tidak mengajak secara langsung. Ia menyuruh orang lain, Nurdin, seorang guru SMA untuk mengajaknya. Nawawy mulai ikut. Tetapi belum berjalan dengan baik. Ia mulai terpengaruh lagi ke kebiasaan lamanya. Tapi keinginan untuk berubah semakin menguat.

“Apalagi beberapa waktu itu saya sering menyaksikan teman-teman saya mati diujung peluru petrus. Ada namanya Agus Menteng Atas dipetrus, Jali juga dipetrus. Saya memang tidak ada kriminalnya tapi dianggap gembong karena minum. Dan saya itu punya prinsip lebih baik menjadi kepala semut dari pada terjajah, jadi saya menjadi pemimpin di kalangan anak-anak itu. Ustaz bilang sama saya, ‘Kalau antum mati di medan jihad, antum mati karena kedzaliman, saya ikhlas sebagai kakak kamu. Tapi kalau karena miras atau narkoba saya tidak ridha,’” kata Nawawy mengenang.

Beberapa tahun sesudah itu Nawawy benar-benar berhenti total dari minuman keras. “Kalau konsistenya ngikutin ustadz itu sekitar tahun 90 akhir. Untuk menguatkan tekad itu saya juga berusaha selalu puasa Senin-Kamis. Ini cara yang paling ampuh untuk meninggalkan semuan itu, termasuk juga dengan menghindari teman lama. Kalau tidak ikut pengajian intensif itu, belum tentu saya seperti sekarang ini,” tambah Nawawy.

Hari-hari sesudah itu adalah persaudaraan dua anak kandung, yang tidak saja diikat oleh tali darah, tapi juga kasih sayang atas dasar iman. Kasih sayang ustadz Rahmat tak pernah habis. Terlebih bila sekadar soal finansial. “Kalau soal bantuan, itu kapan aja dari masih muda tidak pernah lupa bahkan setelah nikah juga. Pada saat saya meminta bantuan untuk nikah belia sangat girang sekali. Saya nikah hanya modal beberapa ribu saja selebihnya ditanggung Ustadz. Maskawin dari ibu saya lima geram emas.

“Kepada ustaz itu saya tidak pernah minta. Ini juga didikan Ustadz sendiri, jangan minta kepada manusia tapi mintalah kepada Allah yang Maha Kaya. Makanya kalau saya butuh bantuan tidak minta tapi dengan redaksi memaparkan masalah. Saya juga paham kalau ustaz tidak punya duit dari masIh bujangan. Tapi Ustadz kalau punya uang sedikit dan kebetulan saya ada beliau tidak mau nerima. Beberapa tahun yang lalu kebetulan beliau tidak punya uang untuk membetulkan tempat tidurnya yang patah. Saya yang kasih uang melalui istrinya melalui istri saya. Dengan cara ini Ustadz tidak bisa menolak. Itupun karena tempat tidur itu sudah diperbaiki dan sudah terjadi.

Nawawy telah memilih jalan barunya. Merajut cita-cita jauhnya. “Cita-cita saya, ingin mati syahid di jalan Allah dan itu semoga Alah berikan. Seperti Khalid sendiri meninggalnya di pembaringan padahal maunya di mendan perang. Istilahnya itu cita-cita. Yang kedua, saya ingin meninggal dalam kedaan puasa. Apakah Senin-Kamis atau pun pada ayyamul bidh. Meski prosesnya jatuh bangun, alhamdulilah dalam sebulan itu bisa sebelas hari puasa. Selain saya juga ingin kembali untuk bisa konsisten membaca Al Qur’an satu juz sehari, seperti yang terjadi beberapa tahun lalu.”

Pengaruh orang yang sangat mencintainya begitu kuat. “Keperibadian Ustadz yang sang berbekas pada saya itu, beliau tidak pernah lepas wudhu. Alhamdulillah saya beberapa tahun ini saya selalu wudu, shalat dua rakaat. Saya tahu Ustadz melakukannya. Saya tidak pernah disuruh. Dia bercerita tentang Bilal yang selalu melakukan itu.”

Lika-liku itu tentu punya tempatnya sendiri di relung kenangan masa lalu. Tapi yang pasti ia telah menempa sepotong jiwa untuk mendapatkan karunia hidayahnya. “Semua perjalanan panjang itu itu menanamkan kelembutan yang sangat pada diri saya. Padahal saya itu dulunya sadis. Kalau ngadu ayam dan kalah, ayam orang itu saya cekik dan banting. Sekarang saya nyakitin semut saja tidak mau,” kata Nawawy menerawang.

Sentuhan cinta itu telah menampakkan buahnya. Meski jalan belum selesai, tapi setidaknya Nawawy telah merasakan betapa indahnya kasih sayang tulus seorang abang, ‘ayah’, dan saudaranya seiman: ustadz Rahmat Abdullah.**

Ahmad Zairofi AM & Azhar Suhaimi

———————————————————————————————————————


Sumarni, Istri (Almarhum) Ustadz Rahmat Abdullah

“Semoga Anak-anak Bisa Menggantikan Abinya”

Kedukaan menyelimuti keluarga almarhum Ustadz  Rahmat Abdullah di kawasan Pondok Gede, Bekasi, Jawa Barat. Di tengah suasana itu, Sumarni, istri almarhum, berkenan menuturkan kenangannya, tentang keseharian dan harapan almarhum pada Wasilah dari Tarbawi, Jum’at sore, 17 Juni 2005 (tiga hari setelah  beliau wafat). Di sela perbincangan, Sumarni sering tak mampu menahan tangis. Beberapa kali kata-katanya tercekat dan keharuan dalam diam panjang menyelimuti kami. Namun sesekali kenangan jenaka bersama sang suami, membuatnya tersenyum. Saat berbagi, Sumarni ditemani ibunda dan beberapa sahabatnya, yang juga tak mampu menahan keharuan. “Abi sangat baik, subhanallah,” tutur Sumarni berkali-kali. Berikut penuturannya:

Saat berangkat ke DPR pada Selasa (14 Juni 2005) pagi itu, Abi (ustadz Rahmat Abdullah) sehat-sehat saja. Biasa saja, tidak ada semacam nasehat atau sikap berbeda. Maka saya berkali-kali bertanya, ya Allah, semua ini mimpi tidak (terdiam, menangis). Tidak disangka kalau keluar dari rumah itu untuk terakhir kali (ustadz Rahmat Abdullah wafat pada Selasa malam, 14 Juni). Sebelum berangkat, Abi memang senyum, tapi cuma senyum saja. Barangkali maksudnya perpisahan, tapi saya tidak paham.

Selasa pagi itu, Abi ke DPR diantar Yitno, yang sudah lama bersama Abi. Yitno yatim sejak kecil, jadi sama Abi seperti bapak sendiri. Saya tanya ke Yitno, hari itu di mobil Abi bicara apa. Ternyata tidak seperti biasanya, Abi tidak banyak bicara, cuma baca koran saja.

Malam Selasanya, Abi tanya tentang anak-anak, yang tahun ini keluar sekolah siapa. “Thoriq,” saya bilang. Fida kan belum kuliah lagi, kecuali kalau tahun ini ia masuk kuliah kembali. Eba sama Isda masih lama lulusnya. Abi sering bilang sama anak-anak, sekolah tujuannya bukan cari uang atau kerja, tapi cari ilmu.

Lantas Abi bilang, “Nai (panggilan khasnya untuk Sumarni), ada tempat makan bagus deh, makanannya biasa, tapi suasananya subhanallah, indah dan wangi, nanti kita ke sana ya.” (menangis) Kalau tidak salah tempatnya di Sukabumi. Saya tanya rumah makan itu wangi apa. Kata Abi, wangi bunga sedap malam. Abi bilang dia sudah lama nggak melihat sedap malam. Lantas karena teringat di pasar Pondok Gede banyak bunga sedap malam, saya ingin belikan. Tapi belum kesampaian.

Setiap Sabtu pagi, kami sering jalan kaki berdua. Tapi Sabtu kemarin (11 Juni) karena Abi ke Medan, kami tidak jalan pagi. Pulangnya Abi bilang, “Lama kita nggak jalan ya.” Karena seringnya kami jalan tiap Sabtu itu, ada teman bercanda, “Iri deh lihat Ustadz sama Umi Fida, sempat-sempatnya jalan kaki berdua.”

Abi itu subhanallah, sangat baik. Sering ia mau mengerjakan sendiri pekerjaan di rumah. Bikin teh buat saya sama anak-anak, sudah tidak aneh lagi. Bahkan ibu-ibu yang mengaji di rumah sering ia buatkan teh. Kalau saya capek atau sakit kepala, ia langsung ke dapur, bikin nasi goreng. Setelah itu saya dibangunkan, diajak makan. Sering juga ia bikin kopi lantas mengajak minum berdua satu cangkir (menangis).

Kalau pulang, senangnya bawa oleh-oleh buat anak-anak, bawa ubi atau singkong yang dibeli di Pasar Pondok Gede. Pernah saya bilang suka pohon anggrek. Tiba-tiba Abi pulang bawa pohon itu. Ia bawa juga pot, tanah, pupuk sama obatnya. Awalnya saya lihat ada karung di depan rumah. Saya heran, ternyata isinya tanah buat menanam anggrek itu.

Di rumah saya sering sendirian kalau anak-anak sekolah. Dari kantor Abi sering telepon, “Lagi ngapain Nai, sendirian ya?” Saya jawab sambil bercanda, “Iya, sendirian, lagian situ sih jalan pagi-pagi (tertawa).

Pernah ada undangan walimah guru Iqro, Abi lantas mengajak saya membeli bahan, buat dijahit dan dipakai di acara itu. Sewaktu ke Bandung, Abi menelepon, “Nai, saya ke toko sepatu, ada sepatu bagus, kamu pakai nomor berapa?” Pulangnya, ia bawa sepatu sama sandal.

Kalau saya kesal, dia langsung peluk, lantas tanya, “Ada apa?” Abi punya kunci sendiri, supaya kalau pulang malam, nggak membangunkan yang lain. Kalau saya sakit, ia lebih sering lagi telepon. Malah sambil bilang, “Nai, kamu jangan sakit dong.” Dan sepulangnya di rumah, ia memijat tangan dan kepala saya (menangis). Kadang saya tidur di bawah, pakai kasur. Kalau sedang kurang sehat, saya juga pakai selimut. Sehabis shalat malam, biasanya ia membetulkan selimut saya.

Sewaktu mau ke Medan (Sabtu, 11 Juni), Abi cari-cari materi, tapi belum ketemu. Justru yang ketemu foto-foto lama. Ada foto Abi waktu masih muda, sedang ceramah. Lucu fotonya, Abi masih kurus. Lantas ia tanya saya, “Nai, kamu lihat foto saya ini naksir enggak?” Saya bilang sambil bercanda, “Enggak.” (tertawa)

Pernah Abi dapat undangan, tulisannya kepada Doktor Rahmat Abdullah. Lantas ia bilang, “Nai, ikut saya, mau wisuda doktor.” Abi itu suka bercanda. Di pengajian di Iqro (di Pondok Gede) hari Ahad lalu, mungkin itu terakhir Abi bercanda sampai orang tertawa gerrr. Abi meniru lawakan API, “Kata Ustadz Sanusi…Ustadz Sanusi yang mana? Ya… gitu deh

Nama saya kan Sumarni, biasa dipanggil Marni. Tapi kata Abi nggak enak kalau manggilnya ‘Ni’. Digantilah sama dia huruf ‘i’ nya jadi huruf ‘y’, dipanggil ‘Nai’. Sejak menikah Abi panggil saya Nai. Awalnya saya heran, kok manggilnya Nai. Sewaktu tahu sebabnya, saya jadi tertawa.

Sama anak-anak juga sering bercanda, kalau dicandai sama anak, lantas dijawab lagi sama Abi. Anak-anak biasa kumpul di kamar kami, berdesakan di tempat tidur. (Mereka dikaruniai tujuh anak, Shofwatul Fida (19), Thoriq Audah (17), Nusaibatul Hima (15), Isda Ilaiha (13), Umaimatul Wafa (11), Majdi Hafizhurrahman (9), Hasnan Fakhru Ahmadi, 7)

Makanan yang Abi suka salad sama tomyam. Terakhir, saya buatkan tomyam, tapi bumbunya Abi sendiri yang beli. Abi senang belanja bumbu, juga sabun, odol, sampai peralatan dapur, pembakaran ayam, gilingan bawang. Anak-anak juga sering nitip dibelikan sabun muka, bedak, sampai susu pelangsing. Kadang Abinya salah beli. Kata anaknya, “Abi, ini sih bedak buat Umi.”. Pernah anaknya minta dibelikan minuman pelangsing, mungkin dicari di supermarket nggak ada, lantas Abinya belikan Tropicana Slim, karena kan ada tulisan slim-nya.

Saya dan Abi berbeda usia 9 tahun. Abi lahir tahun 1953, saya tahun 1962. Kami sama-sama asli Betawi. Abi lahir di Kuningan (Jakarta Selatan), saya di Cikoko (Jakarta Selatan). Mungkin karena perbedaan usia, sewaktu pergi haji ada jamaah yang tanya ke saya, “Ibu, maaf ya, dulu dikiranya Ibu anaknya Pak Ustadz.” Sering juga orang bilang, “Kayak jalan sama pamannya.” Sewaktu saya ceritakan ke Abi, ia bilang, “Kamu seneng deh kalau ada yang bilang begitu.” (tertawa)

Abi bersama ibu dan bibinya mengkhitbah pada malam Kamis bulan Ramadhan 1984. Saat itu Abi mengajukan usul walimah bulan Syawal. Tapi ada seorang ustadz mengusulkan untuk nikah besok malamnya. Ada yang bilang, “Soal KUA urusan ana, tinggal terima surat aja.” Akhirnya disetujui. Karena mendadak, sewaktu Abi dan keluarganya berangkat untuk nikah malam Jum’atnya, ada teman Abi yang tanya, “Ini mau ke mana sih?”

Abi dulu guru saya, sewaktu saya sekolah di Madrasah Ibtidaiyah Roudhotush Sholihin di Cikoko (Ibunda Sumarni bertutur , “Terburu-buru terbirit-birit, guru kawin sama murid.”) Setelah menikah, Abi tanya saya, “Nai, ingat nggak waktu sekolah dulu kamu ikut lomba shalat di atas meja.” Waktu ikut lomba itu, saya baru kelas satu Madrasah Ibtidaiyah. Kebetulan, Abi jadi jurinya. Setelah menikah, Abi meledek, “Dulu saya pikir, ini anak kecil-kecil ikut lomba shalat.”

Awal menikah kami tinggal di Kuningan, di rumah keluarga Abi. Di sana, saya dan beberapa teman mengaji rutin sama Abi. Masa itu pengajian rutin belum bisa terbuka. Maka kami mengaji di belakang rumah, gelap, dekat dapur. Pernah di tahun ’85-an, saat Abi mengajar ke Bogor, hujan turun lebat. Saya sama ibunya Abi khawatir. Ibunya kan sayang sekali sama Abi, ia berdo’a terus, “Ya Allah ya Tuhan, lindungi anakku.”

Sejak menikah, kelihatan sekali Abi tidak mementingkan materi. Kalau nggak punya uang, ia tenang saja. Paling ia bilang, kalau habis, berarti rejeki mau datang lagi. Kalau nggak ada uang, kami pakai dulu uang simpanan buat sedekah. Begitu ada masukan, kami ganti. Kadang saya “ambil” dulu sama tukang sayur langganan.

Kalau kesal, Abi biasanya diam. Tapi jarang sekali. Sedangkan kalau marah lewat lisan, susah sekali mengingatnya, rasanya tidak pernah. Beberapa hari lalu, entah kesal atau tidak, tapi ia sempat diam. Awalnya bajunya yang digantung saya cuci. Biasanya kalau digantung memang akan dipakai lagi. Tapi karena nggak suka banyak baju digantung, saya cuci saja. Besoknya, mungkin ia mau pakai baju itu, tapi nggak ada. Dia tidak ngomong apa-apa, diam saja. Saya heran kok diam saja. Jangan-jangan baju itu mau dipakai. Cepat-cepat saya setrika lantas digantung lagi. Benar, ternyata baju itu langsung dipakai.

Abi juga tidak suka kalau saya ngomong agak keras. Pernah saya mau bawa anak ke dokter THT. Dia tanya, “Mau kemana?”Saya jawab mau bawa Isda ke dokter THT. Ditanya kembali, “Jenguk siapa?” Saya jawab, “Kan mau bawa Isda ke dokter.” Mungkin nada bicara saya agak tinggi. Abi lantas diam.

Mungkin banyak yang tidak percaya, tapi Abi biasa juga menyewa VCD, tapi film-film filsafat saja. Kalau tayangan televisi, Abi sering gusar. Malah ia langsung telepon stasiun televisi, protes tayangan tidak mendidik. Dia juga bilang ke saya, “Kamu telepon atau tulis surat ke stasiun TV kalau tayangannya kamu nggak setuju.” Maka telepon semua stasiun TV dia catat. Ditempel dekat TV.

Dia sering menyanyikan nasyid Ribathul Ukhuwwah. Pernah ia bilang, “Kita bikin grup nasyid yuk.” Lagu-lagu lama, lagu ‘Tuhan’, ‘Sajadah Panjang’ sama ‘Rindu Rasul’-nya Bimbo, juga dia suka. Lagu yang ia suka biasanya dipilih, direkam tiga kali yang itu-itu saja. Sewaktu disetel, lagu yang keluar berulang-ulang yang ia suka saja (tertawa).

Belakangan ini meski kesehatan Abi menurun, tapi kesibukannya hampir tidak berkurang. Apalagi membaca buku, yang sehari-hari memang “pekerjaannya”, sama sekali nggak berubah. Sambil tiduran saat sakit pun, dia tetap baca buku. Meski tidak bisa bangun, Abi minta tolong saya diambilkan kitab. Sampai perawat di rumah sakit melarang, “Pak jangan baca buku dulu, Bapak nggak boleh banyak pikiran.” Tapi Abi bilang, “Kalau enggak baca buku saya malah tambah sakit.”

Abi paling senang memberi hadiah buku. Belum lama ini saya dibelikan buku Ibu Satu Menit. Biasanya, buku yang ia hadiahkan dikasih tulisan dalam bahasa Inggris, misalnya for my beloved wife. Pernah saya mau baca kitab Riyadush Shalihin, dan mau fotokopi buat dibagikan ke teman-teman. Ternyata Abi langsung beli 10 Riyadush Shalihin. Dia tidak bilang apa-apa. Sewaktu saya lihat di meja, ada bungkusan tebal sekali. Ketika saya buka, isinya 10 kitab itu.

Ia memang paling sering belanja buku. Pergi ke mana yang dibeli buku-buku. Abi senang juga membacakan saya kitab, sambil tiduran. Tapi kalau membaca tulisan Abi terus terang saya kadang nggak paham, cuma saya nggak bilang saja (tertawa).

Sewaktu pulang haji, oleh-olehnya juga buku. Maka kamar tidur pun penuh buku. Kebanyakan bahasa Arab, karena Abi tidak suka terjemahan, kecuali buat perbandingan. Pesannya yang diulang-ulang, harus banyak membaca. Kalau saya tidak paham saat membaca kitab, Abi bilang, “Terus saja dibaca, jangan berhenti, nanti akan paham juga.”

Sehabis qiyamullail, Abi sering diam lama di sajadah, lantas tilawah. Setelah itu, ia mengetik sampai shubuh. Maka saya terbayang-bayang terus saat tengah malam dia duduk di meja kerja. Saya ingat sekali ia bilang, “Saya dari muda udah mikirin umat.” Banyak yang ia harapkan buat umat, sampai kadang ia sedih. Tuduhan-tuduhan teroris juga membuat sedih.

Pernah kami mendapat telepon “gelap”. Misalnya, sewaktu pemilihan presiden lalu. Kebetulan yang mengangkat teleponnya Abi sendiri. Orang itu marah-marah dan bicara kasar sekali. Tapi Abi biasa saja. Ada juga sms seperti itu. Kalau lewat sms, biasanya ditelepon langsung sama Abi, tapi tidak pernah diangkat.

Sebenarnya, Abi tidak mau dicalonkan jadi anggota DPR. “Bukan di situ bidang saya,” katanya. Dia benar-benar tidak sreg di DPR. Belakangan ia sering tanya, “Nai, kalau saya keluar dari DPR kamu bagaimana?” Bagi saya, anggota DPR atau tidak sama saja.

Dia sering bilang, di DPR orang lebih banyak memakai emosi. Argumennya banyak yang karena nafsu, bukan pemikiran. Debat panjang, tapi setelah itu tidak ada penyelesaian. Maka rumah (dinas DPR) juga nggak ditempati. Lagi pula anak-anak sekolahnya di Pondok Gede. Kalau dari Kalibata terlalu jauh. Pernah sewaktu Abi pulang malam, saya bilang, “Udah Abi tidur aja di rumah (di kompleks DPR) sana.” Tapi Abi nggak mau. “Yah… enggak enak enggak ada kamu,” katanya.

Pada anak-anak, sekarang saya sering bilang sejujurnya, “Umi masih bersemangat hidup karena ada kamu. Nanti Abi kecewa kalau Umi nggak bisa mendidik kamu.” Thoriq akan masuk kuliah. Cuma dia bilang, “Mi, Thoriq kerja saja ya. Kalau enggak, nanti yang cari uang siapa.” Tapi saya tidak ijinkan. Anak-anak harus sekolah dulu, soal rejeki insya Allah dimudahkan Allah.

Alhamdulillah, Hasnan, anak yang terakhir (kelas 1 SD), minatnya ke agama besar sekali. Kalau ada tugas hapalan qiroah, malamnya dia serius belajar. Seperti Abinya, dia senang membaca. Kadang dia mengikuti Abinya, baca kitab sambil tiduran, meski belum ngerti isinya. Kalau melihat dia begitu, saya sama Abinya sering tertawa.

Sebenarnya saya berharap anak-anak semuanya mendalami agama, menjadi ulama seperti Abinya. Setidaknya, mudah-mudahan ada di antara anak-anak yang bisa menggantikan Abinya. Abinya juga begitu harapannya. Sering ia bilang, “Kalau Abi udah nggak ada, kitab Abi siapa yang mau terusin baca nih?”

Kalau sedang jenuh, Abi hobinya membakar sampah. Dia cari yang tidak terpakai, lantas dibakar di samping rumah. Pernah malam-malam Abi mencari naskah, tapi nggak ketemu. Akhirnya kertas-kertas hasil bongkaran yang sudah nggak terpakai, dibakar malam itu juga. Pernah juga sudah siap mau bakar sampah, ternyata halaman udah dibersihkan penjaga sekolah (Iqro), akhirnya nggak jadi.

Saya ingat, Abi pernah bilang, “Insya Allah nanti kalau sudah tua, kita menginap di rumah anak-anak, bergiliran.” Ia juga meledek saya, “Nai, nanti kamu kalau sudah tua marah-marah melulu deh.”

Saya membayangkan memang akan hidup sampai tua sama Abi. Ternyata kehendak Allah lain. (terdiam)*****

———————————————————————————————————————–

Humor-humor

Ustadz Rahmat Abdullah

Tidur Nelentang Bisa Mati

Suatu malam, di sebuah villa di kawasan puncak, para peserta dauroh (training) yang terlihat letih bersama Ustadz Rahmat Abdullah, berniat merebahkan tubuh mereka untuk beristirahat. Sang ustadz yang melihat mereka berbaring di atas lantai tak lupa berpesan, “Hei, kalian tidur jangan nelentang ya. Kalian bisa mati nanti.”

Mendengar perkataan yang sepertinya serius itu, mereka buru-buru memperbaiki posisi tidur mereka. Tapi nasehat ini terasa aneh, sehingga membuat mereka terdiam dan berpikir.

Salah seorang peserta memberanikan diri bertanya, “Lho kok begitu, Ustadz?”

Sang ustadz yang ditanya diam tak berkomentar. Sementara yang lain sibuk memikirkan apa yang dimaksud ustadz sebenarnya. Tak lama kemudian, mereka semua tergelak tertawa, sebab ternyata yang dimaksud nelentang oleh sang ustadz bukanlah posisi terlentang seperti yang mereka sangka. Tetapi yang dimaksud adalah nelen tang (nama alat temennya obeng).

Nelen biskuit sambil tiduran saja bisa keselek, apalagi nelen tang!.*****

Lagu-lagu Tentara

Dalam suatu kegiatan i’tikaf di sebuah masjid, Ustadz Rahmat Abdullah mendapat kesempatan memberi ceramah subuh untuk para peserta. Namun karena mereka sepanjang malam mengikuti qiyamullail, sebagian peserta terlihat tak kuasa menahan kantuk.

Melihat kondisi itu Ustadz Rahmat tidak kehabisan akal. Dalam ceramahnya ia sisipkan humor yang menyindir kehidupan tentara. Katanya, “Yang namanya tentara itu di masing-masing pangkat punya lagu heroik sendiri-sendiri. Kalau masih berpangkat prajurit, lagunya: ‘Maju tak gentar membela yang benar,’” katanya sambil menyanyikan lagu itu dengan lantang. “Tapi, kalo sudah jadi sersan lagunya: ‘Padamu negeri kami berjanji….,’” katanya meneruskan ceritanya. “Nah, kalo sudah perwira lagunya lebih gembira, “Di sini senang di sana senang, di mana-mana hatiku senang.”

Jamaah tertawa. Kantuk pun hilang.****

Sumber: warisansangmurabbi.com