Bencana finansial tak ubahnya dengan bencana alam. Sama-sama berakhir dengan kesengsaraan dan penderitaan. Tapi, pernahkah anda menyangka kalau bencana itu tercipta bukan karena sebuah proses kebetulan melainkan karena sudah direncanakan sebelumnya?
Jelas ada yang tidak beres dengan dunia kita saat ini. Hari ke hari, jumlah orang miskin terus bertambah. Kota dan desa dipadati para penganggur sementara pabrik dan industri di sekitar mereka terus berproduksi, mengeksploitasi kekayaan bumi, tanpa memperhatikan keadaan di sekitarnya. Ironis, ada daerah yang kaya sumber daya alam namun penduduk di sekitarnya kurang gizi bahkan kelaparan.
Sejumlah usaha telah dilakukan untuk memperbaiki keadaan. Pelbagai kebijakan ekonomi dan proyek pengentasan kemiskinan diluncurkan namun tidak satupun yang benar-benar berhasil saat diterapkan. Jauh panggang dari api. Dunia, masyarakat kita, terus terperosok dalam krisis ekonomi, politik, sosial, dan lingkungan. Sementara itu, inflasi kian memperburuk keadaan. Nilai uang merosot, harga barang dan jasa melambung. Otoritas moneter berjuang menekan laju inflasi namun secanggih apapun pendekatannya, akar inflasi tak pernah sungguh-sungguh bisa dihancurkan. Benar kiranya Robert Mundell. Dunia saat ini, kata peraih nobel ekonomi itu, memasuki apa yang disebut rejim inflasi permanen.
Kenapa tak satupun tindakan yang benar-benar mampu mengubah keadaan? punya pandangan tak biasa. Bankir bank syariah terbesar di Indonesia itu berpendapat, semua itu terjadi karena kita mempergunakan sistem ekonomi yang mengandung cacat laten. Walhasil, apapun kebijakan yang dilahirkannya, –dengan segala turunannya– sama sekali tidak akan mampu memperbaiki keadaan.
Pandangan A. Riawan Amin yang juga merupakan Direktur Utama Bank Muamalat Indonesia itu terbentang dalam buku terbarunya, Satanic Finance, True Conspiracies. Membaca buku Ketua Asosiasi Bank Syariah Indonesia ini sungguh menyentak kesadaran sebab ia meruntuhkan banyak teori dan praktik keuangan moderen yang selama ini kita anggap benar. Ia beranggapan sistem ekonomi moderen adalah “sistem setan.”
Setelah membaca buku ini kita akan tahu mengapa kita menjadi miskin dan mengapa krisis ekonomi terjadi. Apa yang menyebabkan negara-negara berkembang yang sebetulnya sangat kaya sumber daya alam, namun ternyata hidup melarat, kelaparan dan dililit utang yang seakan-akan tak mungkin terbayar? Apakah semua itu merupakan kebetulan?
Menurut penulis buku ini, hal tersebut sama sekali bukan kebetulan, melainkan sesuatu yang didesain. Bencana finansial tercipta bukan dari proses kebetulan, tapi kreasi dari para setan dan manusia-manusia yang menjadi agen binaannya. Melalui “Tiga Pilar Setan” yaitu: flat money, fractional reserve requirement, dan interest—para pelaku satanic finance menghisap darah korbannya, terutama negara-negara berkembang.
Flat money adalah uang kertas bernilai –persisnya dianggap bernilai– hanya karena diberi cetakan angka oleh otoritas moneter yang menerbitkannya. Uang kertas sama sekali tidak dijamin oleh emas dan perak. Uang kertas hanya lembaran kertas biasa, tak berbeda dengan kertas cetakan lainnya. Jika dicetak melebihi jumlah barang dan jasa yang bisa diproduksi maka terjadilah inflasi. Melalui flat money pula kolonialisasi moderen dijalankan. Buku ini menyebutkan dolar AS merupakan contoh nyata. Bagaimana AS dengan mudah mudah menjajah dunia. Dengan penerapan sistem uang kertas, memungkinkan AS mempermainkan nilai mata uang negara-negara ketiga yang bersandar kepadanya. Penerapan uang kertas dalam sistem keuangan dunia adalah sebuah konspirasi.
Pilar kedua, fractional reserve requirement (FRR) –kebijakan yang menempatkan bank sebagai pihak yang leluasa mengucurkan pinjaman (kredit) kepada deposan. Disini, bank, termasuk bank sentral, ikut mencetak flat money lalu menggandakannya. Pilar kedua ini bertemali dengan pilar ketiga; interest (bunga)–praktik lumrah berikutnya dalam perbankan.
Bank memungut bunga karena beberapa alasan: biaya servis atas transaksi pinjaman (utang) atau kompensasi mendapatkan hasil produktif bila uang tersebut diinvestasikan dalam bentuk lain. Apapun alasannya, Taurat, Injil dan Al Quran melarang memungut bunga dikarena termasuk praktek riba. Seluruh kitab agama langit sepakat, mengambil riba (bunga) menyebabkan pelbagai kerusakan. Bunga mendorong persaingan di antara para pemain dalam ekonomi. Bunga memosisikan kesejahteraan pada segelintir minoritas dengan memajaki kaum mayoritas. (hal. 48).
Buku yang ditulis oleh pengarang The Celestial Management ini menggugah kesadaran baru kita, betapa krisis ekonomi itu sengaja diciptakan. Penulis mengungkapkan cara setan merancang kehancuran ekonomi, siapa saja kolega mereka, dan apa saja trik-triknya.
Tidak sekedar menyingkap betapa buruknya satanic finance, Riawan memberi solusi untuk menghadapinya yaitu dengan meninggalkan riba dan kembali pada mata uang dinar emas dan dirham perak. Riawan yakin, dengan melakukan dua hal ini maka “tiga pilar setan” itu akan runtuh dengan sendirinya. (hal. 112)
Dinar adalah koin emas murni seberat 4,25 gram; dirham adalah koin perak seberat 3 gram. Keduanya patut dijadikan mata uang alternatif pengganti flat money. Dinar-dirham bernilai ril karena terbuat dari logam mulia (commodity currency). Ini berbeda dengan uang kertas yang hakikatnya tak lebih dari kertas cetakan belaka, nihil karena tak mewakili nilai emas atau perak. Potonglah sekeping dinar emas menjadi bagian-bagian kecil, seluruh bagiannya tetap berharga namun guntinglah selembar uang kertas maka ia sama sekali tak akan berguna.
Syeikh Dr Abdalqadir as-Sufi , memperkenalkan kembali pamor dinar yang meredup selama lebih setengah abad. Pertengahan Agustus 1991, tokoh sufi di Eropa itu mengeluarkan fatwa haram penggunaan uang kertas sebagai alat tukar. Dinar-dirham dicetak kembali oleh Islamic Mint Spanyol tahun 1992 di bawah kewenangan World Islamic Trade Organization (WITO).
Tidak seperti buku ekonomi yang umumnya terkesan berat, membaca buku ini justru enteng. Riawan menunjukkan dengan cemerlang, penerimaan kita pada uang kertas dan riba adalah biang pelbagai kerusakan ekonomi yang diiringi krisis kemanusiaan lainnya. Penulis menggunakan sosok setan sebagai tukang cerita dalam buku karangannya ini. Lewat sudut pandang tokoh terkutuk inilah, Riawan membentangkan data seputar carut-marut satanic finance. Usai membaca buku ini, kita dihadapkan pada dua pilihan: berdamai dengan sistem keuangan yang berlaku sekarang dengan segala bencana yang ditimbulkannya atau memilih aturan baru yang sama sekali berbeda untuk menyelamatkan keadaan.

http://anick2312.multiply.com